Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa kedip mata, getar sudut bibir dan senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Milk yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin. 

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa. 

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah akhirnya bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”