Ancaman #3802


Teruntuk kamu,
Seorang perempuan dengan komposisi kecantikan
50% genetik + 30% fashion + 6% intelegensi - 20% behave 

Celana dalam…

Saya baru saja sampai kamar dan kedinginan. Hujan di luar sana, badan saya basah semua. Dari ujung rambut sampai ujung kumis yang, maaf-maaf saja, sengaja bandel belum dicukur habis. 

Bagaimana kabar kamu hari ini? Adakah pertanda menuju pencerahan?

Tembok Cina

Assalamu'alaikum, wahai tembok.

Izinkanlah saya mengutip sebuah quote yang cukup terkenal: 
"There is not a thin line between love and hate. There is, in fact, a great wall of China..."

Adapun maksud saya mengutip quote tersebut adalah tidak lain tidak bukan untuk mengingatkan kamu kembali bahwa diantara kita tengah berdiri kokoh tembok yang amat tebal -- yang dengan sengaja kamu bangun.

Si Alan

Kamu tahu, kamu sudah berbuat jahat terhadap saya. 
Diam kamu itu sungguh perbuatan yang kejam. 

Adakah sesuatu kesalahan yang sudah saya lakukan? 

Ah, saya benci pertanyaan itu. 
Tapi sekiranya memang demikian, saya tidak akan minta maaf.

Menghadap Tembok

Sewaktu saya masih sekolah SD dahulu, pernah suatu kali bapak memanggil saya dan bilang begini. “Andi, maukah bapak ceritakan tentang dunia perempuan dan seluruh penghuninya?”

“Tidak, bapak. Jangan. Saya masih kecil.”

“Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang dunia mereka, Andi. Suatu hari nanti kamu akan memasukinya. Sudah sepantasnya bapak memberikan bekal pengetahuan tentang hal tersebut. Semoga kelak, jikalau kamu menghadapi tembok besar dalam hidupmu, kamu akan teringat akan pesan-pesan bapak yang tidak seberapa ini.”

Basah-Basah


Basah bumi di luar sana.
Empat hari tidak saya lihat matahari.
Tuhan, adakah ini pertanda cucian saya tidak kering lagi?
Haruskah saya kenakan juga kemeja hari kemarin?
Bagaimana dengan besok?

Ataukah ini sekedar gambaran… cuaca di hati?


Bandung, 28 Oktober 2008

5 Hal Penting Tentang Saya

Seorang kawan lama mengunjungi blog ini. Komentar pertama dia adalah, “Mana tentang kamu-nya?”

Saya bingung. “Maksud kamu?”

“Maksud saya… mana tentang kamu-nya?”

Diam sesaat. “Maksud kamu?”


Baiklah. Daripada daripada, mendingan-mendingan. Mari saya jelaskan lima hal penting tentang saya. Iya, saya ini, a.k.a Andi Eriawan.

Aisa, Ibu, Nikotin dan Kolesterol

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.


Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Surat Terbuka

Wahai Agen Asuransi 007
yang saya hormati
di mana saja berada

Melalui surat ini saya beritahukan bahwa dengan sangat menyesal saya, a.k.a Andi Eriawan, tidak akan mengikuti program yang kalian tawarkan. Berikut di bawah ini adalah catatan panjang yang memuat berbagai alasan dan argumentasi mengapa saya menolak untuk bergabung. Karena itu, saya harap surat ini dibaca dengan ditemani segelas kopi kental. Semoga jawaban saya memuaskan dan hubungan kita tetap berteman.

Penuaan Dini






















Beberapa hari yang lalu, saya berulang tahun
Saya bertambah tua
Tubuh semakin membungkuk
Perut membuncit
Uban di mana-mana
Rambut menipis
Keriput di tiap sudut
Pandangan semakin mengabur

Lompat Kodok

Malam ini saya berulang tahun. 
Kamu tahu yang ke berapa? 

29

Aih, bukan angka cantik, tentunya.

Cecak bin Kadal

jika ditanya
ke mana akan pergi
menujumu
atau kembali sunyi…


tapi jarak diantara kita
bukan tidak seberapa

butuh empat milyar dua puluh tiga
langkah cecak
untuk sampai ke sana

Jiwa yang Direnggut Paksa

Ada yang merenggut pagi milik saya, kamu tahu. Pagi yang berharga. Lebih berharga dari siang, sore atau malam. Pagi milik saya. Milik saya sendiri.


Banyak sekali yang salah dari hari ini, kamu tahu. Pagi-pagi benar, tidak saya temukan gelas bersih untuk minum kopi. Jadilah saya mencuci gelas pada pukul lima limabelas. Kemudian, tidak saya temukan pula air panas. Yang tersisa cuma air hangat sisa kemarin sore. Dasar saya manusia, saya pikir temperaturnya cukup, lah. Tahu-tahunya, saya kesulitan melarutkan bubuk Moccacino itu.

Jerawat Batu

pernahkah kau dengar
gerimis yang turun
seperti semalam…
rintiknya begitu berima
mendendangkan lagu-lagu kita

adakah kau pandang
bulan sepotong yang bersinar
seperti semalam…
cahayanya menari-nari di atas kepala
ciptakan silhuet berbagai peristiwa

Ancot


Kamu tahu.
Sudah sejak waktu yang cukup lama, saya merindukan naik angkot. Sekiranya ongkos tidak naik terlalu tinggi, bagi saya naik angkot dapat menjadi suatu wisata yang cukup menyenangkan. Saya bisa mengintip gerak pemandangan di luar jendela. Terlebih jika bisa bersama dengan seseorang yang saya istimewakan, tentu saja. Saya bisa melihat wajahnya dan kami bisa berbincang-bincang. Tentang hidup, masa lalu yang telah berlalu, masa depan yang masih panjang. Juga mengomentari penumpang sebelah sambil berbisik-bisik dan terkikik-kikik.

Do You Want to Know a Secret

Sudah lebih dari dua bulan tivi tidak saya nyalakan. Tidak ada berita yang saya tonton. Tidak ada gosip, sinetron, ceramah pagi ataupun mtv. Juga tidak ada koran yang saya baca. Tivi saya berdebu sangat tebal, seperti fosil tua yang baru ditemukan.

Lalu di kantor, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, rentetan peristiwa baru saya dengar dari selintas obrolan.

“Amerika resesi. Pasar saham dunia turun.”
“Puluhan orang jadi korban miras oplosan di Indramayu.”
“Rupiah semakin melemah.”
“Exxon berusaha mendapatkan sumur minyak.”
“BCL menikah bulan November.”
“Badawi siap diganti.”

Di Mana Kambing Saya?

waktu itu saya masih solehah
setiap terdengar adzan berkumandang
langsung segera mengambil wudlu

di tahun-tahun pertama kuliah
saya ini aktifis masjid

pasti kamu ngga percaya

tapi
demikianlah adanya

malahan
saya sempat menduduki 
jabatan-jabatan penting

salah satunya
ketua divisi hewan kurban

Pantai


saya ingin mengajak kamu
ke pantai

sudah beberapa lama
saya memimpikan itu

kita berdua melihat laut

Apanya, Ya?


hari ini saya sibuk banget
sibuk sekali
mondar mandir ke sana ke mari
telepon rang ring ngga berhenti
rapat melulu
kerjaan menumpuk
sampai-sampai saya ngga sempat berkedip
apalagi makan minum

Meramal Masa Depan


saya ingin bertanya
tentang masa depan

tapi
saya takut

kamu tahu kenapa saya takut?

karena itu dosa
kita dilarang percaya ramalan
dan kamu bukan mama lauren

Ahmad Dani


kamu boleh benci seluruh dunia
tapi jangan pernah benci
ahmad dani


janji?

PTDI


saya takut ketinggian

ya, seperti setiap superhero di dunia
kami memang punya kekurangan

dan saya sekarang bekerja di pabrik pesawat
untuk menaklukkan rasa takut itu

Bandung, 09 Oktober 2008

H-1

Aisa, sayang.

Besok bapak berulang tahun. Kado apa yang sudah kamu siapkan? Bapak harap kado kamu tidak seperti yang selama ini ibumu berikan. Seleranya aneh. Sewaktu ulang tahun ke-22, masa bapak dihadiahi boneka? Setahun kemudian, bapak menerima cd lagu, sementara bapak tidak punya mesin pemutarnya. Lalu, ada sebatang cokelat yang menyebabkan bapak tumbuh lima jerawat. Salah satunya di pantat. Pernah juga bapak menerima novel Harry Potter 2, sedangkan nomor pertamanya belum lagi bapak baca.

Tapi, sayang, jangan pernah ceritakan ini pada ibumu, ya. Bagaimana lagi. Bapak tetap suka dengan yang gratis-gratis.

Sleepless

Tadi malam saya ngga bisa tidur. Bukan. Bukan karena mikirin kamu. Tapi, karena kamar saya ngga rapi. Itu aja.








White Flag

tiba-tiba
kamu mengajak kita
melihat laut bersama

sialan

apakah kamu tidak tahu
cuaca memburuk akhir-akhir ini
angin bertiup kencang menerbangkan apa saja
ombak pasang hingga beberapa meter tingginya
nelayan saja sampai terhalang mencari nafkah
dan kapal-kapal laut terpaksa ditambatkan di dermaga

Minal-Minul

Sampailah saya pada bagian yang paling menyebalkan dalam berlebaran, yaitu memaafkan. Tiba-tiba saja saya dituntut untuk memberi maaf pada mereka. Kesalahan segunung, minta dihapus dengan modal sms di bawah seratus perak. Itu pun tanpa menyebutkan nama saya, menandakan sms tersebut dikirim secara massal ke banyak orang.

Saya… seorang saya… mereka sama ratakan dengan lainnya?

Termasuk kamu, yang tiba-tiba muncul di malam buta. Minta maaf saja tidak cukup. Apalagi sampai minta oleh-oleh.

Huh!