Pernah, dong, ah...

Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Berdua, kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Resolusi Tahun Baru

Selama delapan tahun terakhir, malam pergantian tahun saya lewati dengan tidur nyenyak dibarengi mimpi indah. Tidak ada itu pesta kembang api, hura-hura, euforia dan romantisme harapan tahun yang baru saja datang. Dalam hal ini, hati saya dingin dan datar saja. Nyaris memandang itu semua secara sinis, malah. Karena itu, tidak pernah saya repot-repot menyusun resolusi.

Tahun baru adalah hari libur sedunia. Tanggal merah. Merah hati. Hati-hati di jalan, sayang.

Resolusi adalah tingkat ketajaman sebuah gambar atau image. 800 x 480 adalah resolusi monitor laptop Asus EEPC milik saya yang kecil dan imut. Juga lucu. Tapi kalau marah, galaknya tiada dua.

Pergi, Jangan, Jangan Pergi


bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

Ember

lalu kusingkap rahasia pada mereka
tentang persahabatan kita
yang teranyam jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

What Came with Love is Lost

seandainya nanti
kudiberkati dengan putera-puteri
kan kuceritakan tentang engkau, bunda
seorang perempuan mulia
baik tingkah maupun rupa

seandainya kelak
anak-cucuku terlahir ke dunia
kan kudendangkan syair-syair
tentang indahnya ku di masa kecil
di mana engkau, bunda
adalah cahaya di rumah kita

Hari Ibuuuu

kalau kamu tanya saya baru dari mana
saya berani bertaruh berapa saja bahwa
kamu pasti tidak bisa menjawabnya…

sepintar apa pun kamu
setinggi apapun ipe kamu





Airmata, Aisa

Teruntuk Aisa,
seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Untuk Rini di Cimahi

Bandung, 25 Oktober 2005

Dear, Rini.
Beribu maaf, kamu harus menunggu begitu lama untuk dapat menerima surat balasan ini. Kebiasaan buruk menunda segala sesuatu memang sudah menjadi kekurangan saya yang paling mendasar.

Sekali lagi… maafkan.

Ada kelegaan luar biasa sewaktu saya membaca surat kamu. Ternyata, kamu menyukai novel itu. Bahkan, kamu ceritakan juga tentang tokoh Pram yang kamu suka. Sungguh, bertambah lagi satu alasan bagi saya untuk terus menulis. Terimakasih.

Jadi, bagaimana kabar kamu? Sudah tidak jemu lagi menunggu?


Janji Bangun Tidur

Pagi ini saya terbangun dalam kondisi tubuh yang lemah. Lemah gemulai. Seperti bencong. Pandangan mata berkunang-kunang dan hidung basah tidak kepalang. Tissue berserakan di sisi ranjang. Serangan virus influenza sudah memasuki hari ke tiga, sementara belum satu pun obat farmasi yang tertelan tenggorokan saya.

Masih sedikit tenang, sebenarnya. Sebab rokok dan kopi belum berubah rasanya di lidah.

Pada awalnya, saya pikir ini sugesti belaka bahwa saya sedang sakit. Namun, rupanya saya sudah tidak setangguh dahulu. Sewaktu lari pagi, beladiri, bulutangkis, lari sore, fitness dan naik gunung masih menjadi kegiatan sehari-hari. Saat push-up limapuluh setiap bangun tidur, barbel lima kilo sebelum naik kasur.

Onta

“Andi, apakah setelah menikah nanti kamu akan selingkuh?”



Tadi malam, pertanyaan tersebut diajukan kepada saya oleh seorang calon ibu yang tengah hamil tiga bulan. Bukan. Bukan saya si pelaku penghamilan, tapi suaminya sendiri, tentu saja. Saat ini si suami sedang bertugas di negeri nabi berasal. Tak perlulah kita lakukan test DNA. Buang-buang waktu dan uang berharga.

“Tidak.”

Begitulah jawaban saya. Saya menjawabnya begitu cepat. Sangat cepat. Kurang dari satu detik. Tanpa menimbang. Tanpa berpikir. Tanpa merengut, menggerakkan alis, atau mengerutkan dahi. Kuping saya tidak bergerak dan sudut mata tidak berkedut. Air muka saya tidak berubah. Refleks saja. Seperti seorang jagoan silat yang menangkis serangan tiba-tiba dari arah belakang.

”Andi bohong.”

Jumpalitan

Teruntuk Litan,
seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Masturbasi Spritual dan Emosional

Istilah ini saya pinjam dari seorang teman kantor ketika kami membicarakan betapa maraknya berbagai training motivasi. Tujuan setiap program adalah sama, meningkatkan motivasi para peserta agar mereka dapat lebih bersemangat, baik dalam konteks bekerja, menjalankan kehidupan sampai mengejar kekayaan. Juga meningkatkan keimanan.

Saya sendiri bukan tidak pernah mengikuti berbagai training seperti itu. Di tahun-tahun pertama kuliah, entah berapa banyak jenis training motivasi yang pernah saya ikuti. Termasuk doa-doa bersama yang mencucurkan air mata. Setiap kali lulus dari program tersebut, saya serasa lahir kembali dengan jiwa baru. Merasa lebih bersih dan bersemangat.

I Love Goat

Dari semua hewan yang terdapat di seluruh permukaan bumi, saya sangat bersyukur Tuhan menciptakan kambing.

Sate, steak, gulai. Ah, sedapnya.

Sampai-sampai saya berpikir bahwa… ini mungkin hidangan kiriman dari warung-warung di surga. Pernah suatu kali saya habiskan empatpuluh tusuk sate kambing dalam waktu kurang dari satu jam. Saya potong-potong sendiri itu kambing. Saya tusuk-tusuk penuh nafsu. Lalu saya panggang. Bumbu maranggi tidak terlupa disertakan: kecap, bawang, cabe ijo. Malam harinya dilanjutkan dengan pesta lamb chop. Jangan tanya berapa yang masuk ke dalam perut.

Idul Adha dua tahun lalu. Salah satu hari terbaik di sepanjang hidup saya.

Memory Salon Memory

ada yang mengetuk di balik pintu
desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah