Kemeja Putih
Keputusan penting dalam hidup biasanya bermula dari cinta, cita-cita, peperangan, atau panggilan negara.
Namun, kepindahan kami ke Jepang disulut sebuah pesan WhatsApp yang tidak pernah sampai.
Saat itu pertengahan tahun 2024, puluhan rekan kerja di kantor lama menerima pesan rahasia. Isinya sederhana: besok harap kenakan kemeja putih lengan panjang dan peci hitam.
Itu bukan undangan pengajian.
Mereka akan dilantik untuk menduduki jabatan baru.
"Gawat. Peci haji yang saya punya."
Saya menunggu sampai larut malam. Membuka WhatsApp, menutupnya, lalu membukanya kembali. Barangkali terlambat. Barangkali sekretaris perusahaan salah menulis nomor saya. Barangkali direktur utama sedang menyiapkan kalimat yang lebih personal karena hubungan kami cukup akrab.
Tidak ada apa-apa.
Keesokan harinya, mereka muncul dengan kemeja putih dan peci hitam. Saya mengenakan batik, sebagaimana lazimnya berkantor di hari Jumat. Motif mega mendung warisan budaya bangsa seakan berubah menjadi tulisan pengumuman bahwa saya tidak turut dipromosikan.
Orang-orang mengira saya akan menjadi pejabat, minimal VP. Saya juga mengira demikian, meskipun tentu saja tidak pernah mengatakannya dengan terang-terangan.
Kesombongan harus dipelihara dengan rendah hati.
Saya ikut memberi selamat kepada mereka yang dilantik. Menyalami satu per satu dengan senyum seorang lelaki terhormat yang memahami bahwa jabatan hanyalah amanat.
Hanya saja, amanat tersebut rupanya diberikan kepada orang lain.
Saya tidak sakit hati. No, way. Sedih dan kecewa tak ada tempat di hati seluas samudra.
Dua minggu kemudian saya melamar pekerjaan di Jepang.
Itu bukan sakit hati. Itu strategi karier internasional.
Ketika saya sampaikan rencana pindah, istri saya menjadi orang yang paling bersemangat. Saya memikirkan bahasa, ongkos, sekolah anak-anak, dan masa depan keluarga. Ia memikirkan Instagram Story-nya.
"Musim semi itu bulan Februari atau Maret?"
Dua anak kami manut saja. Anak ketiga sengaja tidak kami beritahu. Biarlah ini menjadi kejutan saat ia lahir nanti.
“Selamat datang di Bandung.”
Tapi bohong.
Akhir tahun itu saya berangkat lebih dulu. Dua bulan lamanya saya makan masakan sendiri. Perkara rasa, usah ditanya. Tidak keracunan menjadi standar minimal. Tidak pula berani saya masuk restoran, khawatir disapa pelayan:
「店内でご利用ですか?」
Seandainya saja malam itu WhatsApp saya berbunyi, mungkin saya hanya akan pindah ruangan, bukan negara. Dan pastinya saya sudah punya sekretaris penggoda, atau bawahan yang terpaksa tertawa ketika saya bercanda.
VP: Tolong ketik ini.
Sekretaris: Apa? Kelikitik?

Comments