Posts

Mangaf

JIKA memaafkan itu semudah membuka mulut tak ada gunanya polisi dan jaksa penuntut…

Would You...?

Aku sungguh kesulitan untuk mengakhiri kisah – yang entah kita beri nama apa – ini. Perjalanan yang menyenangkan, bukan? Dan cukup menyenangkan untuk diceritakan pada orang-orang. Setidaknya, bagiku demikian. Aku sudah mengenalmu dalam berbagai versi. Sejak keceriaan yang polos, keramahan tanpa basa-basi, jari-jari yang cekatan, mood yang tak tentu, hingga sorot mata yang sering membuat bulu kuduk berdiri.

Resolusi 2006

Begitu banyak hal yang terjadi di tahun 2005 kemarin. Tahun yang berat dan juga menyenangkan. Tentunya, saya harus membuat rencana dan tekad yang besar agar di tahun 2006ke depan saya bisa menjalaninya dengan lebih baik. Resolusi? Perlu!! Bahkan untuk lelaki seperti saya. 1. Saya menyatakan perang dengan Kepolisian Republik Indonesia

Xie Xie

sekali lagi… kau dan seluruh penghuni bumi mengelilingi matahari yang sama sedang aku masih saja mengitarimu…

Jalangkung atau Maling

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki masa layaknya pencuri alias maling. Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Ramadhan

maraban hayam ku huut maraban domba ku jukut Marhaban ya Ramadhan

Mitos, Legenda dan Mistik

“Kamu percaya Sangkuriang?” Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit belagu. “Tentu saja tidak!” jawab saya ketus, melemparnya dengan tutup kakus. “Saya lebih percaya pada Dayang Sumbi.” Mungkin karena terbiasa dengan sikap saya yang demikian, dia hanya tersenyum, menangkis lemparan tutup kakus saya dengan tutup drum. “Bukan itu maksud pertanyaan saya. Tapi, apa kamu percaya dengan keberadaan mereka?”