Posts

Telur Dadar

pada masanya nanti usai mengajar para kanak  berhitung  dan mengaji diam-diam kita akan menangis melihat mereka terlahir tumbuh dan bahagia “Air matanya jangan sampai tumpah, Bu.” begitu kata si bungsu yang belum bisa terpisah dari ranjang ibu-bapaknya

Alif Ba Ta

Image
Dan tiba-tiba saja saya bilang, “Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.” “Ijin diberikan.” Begitu kamu menjawab pelan. “Apa?” Tanya saya, pura-pura tidak mendengar. Kamu meraih secarik post-it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya dengan acuh tak acuh: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

1000 Miles to KUA

Setelah menggunakan KTP palsu selama enam tahun, hari ini saya memutuskan untuk membuat yang asli. Original. The real one.  Ada pun kenapa akhirnya saya berubah pikiran, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena syarat dari KUA. Bagi mereka yang hendak menikah, KTP asli merupakan modal utama. Di samping rumah, mobil, karir dan uang tunai, tentunya. Masa, mengawali rumah tangga dengan kepalsuan? Sebagai seorang calon suami dan calon ayah yang penuh dedikasi dan komitmen, mengurus KTP harus dilakukan sendiri, dong. Bersih dan lurus. Tidak bengkok disertai pelicin. Kalau mengurus KTP saja tidak becus, bagaimana dalam mengurusi badan yang gemuk? Ups…

Surat Cinta #0016

Kepada Mrs. Boss di hati Mrs. Boss, Badan saya meriang.

Empat Anak Cukup

“Kenapa pilih aku, Pak Andi?” kamu bertanya di atas loteng persembunyian seusai mengusir tuan kecoak yang sedang merayap di kain kerudungmu. Dan sebenarnya bukan beliau saja yang menguping pembicaraan alot kita. Para tetangga pun menempelkan telinga di dinding dan di balik kaca nako rumah mereka. Dasar tidak ada kerjaan. Padahal seharusnya mereka shalat taraweh berjamah di masjid sebelah.  ”Karena saya ingin punya duapuluh anak,” saya menjawab dengan sungguh-sungguh. 

Tidak Berjudul

ada masa-masa di keluarga saya di mana uang bukan masalah kami memang bukan jutawan bukan tapi tidak pernah kebingungan apa yang besok hendak dimakan

Bulan Madu

Image
Pada awalnya, tidak ada rencana untuk melakukan perjalanan menuju Kampung Pacet, Bandung Coret. Sementara di mana itu letaknya Pacet, hanya segelintir orang yang tahu. Dan saya, a.k.a Andi Eriawan, termasuk dari si segelintir tersebut. Sungguh beruntung. Patut dibanggakan dan layak mendapatkan penghargaan. Tak ada jalan tak macet menuju Pacet. Demikian pepatah yang beredar. Dan sayalah yang menyebarkan pepatah tersebut. Bagaimana lagi, untuk sampai ke Pacet, kita harus melewati jalur-jalur yang perawan macet. Macet oleh motor, angkot, bus dan truk. Ada Jalan Buah Batu yang sulit ditembus atau Dayeuh Kolot yang berjalan kaki saja kita akan mengalami kesulitan. Belum lagi perbaikan jalan di kawasan Banjaran dan Bale Endah yang tak pernah usai. Jika perjalanan dilakukan pada hari libur, maka akan ada tambahan volume kendaraan luar biasa dari berbagai daerah menuju dan keluar kota Bandung. Belum lagi pesta khitanan atau perkawinan dari rumah-rumah di pinggir jalan akan semakin mem...