Posts

Always, Laila (Repackaged)

Image
   Sebuah Pengantar   Seseorang di seberang pulau nun jauh di sana berjarak milyaran langkah pernah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab. “Kamu lebih tahu tentang perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.” Begitu katanya seusai ia membaca always, Laila . Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca maksud si penuduh. Tengah mengejekkah atau sedang jujur memberi apresiasi. Saya lebih merasa tersinggung daripada terpuji. Maklum, waktu itu saya belum tahu siapa itu si Freud. Seandainya saja si penuduh membaca lagi kisah ini lebih teliti tanpa melewatkan satu pun huruf titik koma spasi, beliau pasti akan menarik kembali kata-katanya dan menggantinya dengan kalimat: “Kamu lebih tahu tentang perempuan dan juga laki-laki daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.” Maklum, dia sendiri tidak tahu siapa itu si Freud. Tapi Always, Laila memang berkisah tentang perempuan dan juga laki-laki. Karakter mereka dibangun melalui riset panja...

D 17 UAL

Image
pada tangki bensin yang sering bocor  kampas rem yang tak pernah bekerja maksimal  lampu yang telah sekian lama padam

Kembalian

Image
. . . . . .

Maaf, Tak Diundang

Image
datanglah pada hari perkawinan kami lihat si tante menangis haru paman-paman tertawa kecil para ponakan berlarian tatkala menyaksikan kami berdua dipersatukan dan kelak putra-putri kami terlahir, tumbuh, dan bahagia kisah ini takkan pernah lelah untuk diceritakan

Telur Dadar

pada masanya nanti usai mengajar para kanak  berhitung  dan mengaji diam-diam kita akan menangis melihat mereka terlahir tumbuh dan bahagia “Air matanya jangan sampai tumpah, Bu.” begitu kata si bungsu yang belum bisa terpisah dari ranjang ibu-bapaknya

Alif Ba Ta

Image
Dan tiba-tiba saja saya bilang, “Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.” “Ijin diberikan.” Begitu kamu menjawab pelan. “Apa?” Tanya saya, pura-pura tidak mendengar. Kamu meraih secarik post-it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya dengan acuh tak acuh: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

1000 Miles to KUA

Setelah menggunakan KTP palsu selama enam tahun, hari ini saya memutuskan untuk membuat yang asli. Original. The real one.  Ada pun kenapa akhirnya saya berubah pikiran, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena syarat dari KUA. Bagi mereka yang hendak menikah, KTP asli merupakan modal utama. Di samping rumah, mobil, karir dan uang tunai, tentunya. Masa, mengawali rumah tangga dengan kepalsuan? Sebagai seorang calon suami dan calon ayah yang penuh dedikasi dan komitmen, mengurus KTP harus dilakukan sendiri, dong. Bersih dan lurus. Tidak bengkok disertai pelicin. Kalau mengurus KTP saja tidak becus, bagaimana dalam mengurusi badan yang gemuk? Ups…