Posts

Buffalo vs Loch Ness

Image
Rupa-rupanya, keinginan untuk melakukan perjalanan sedang menggebu-gebu di hati saya. Seperti baru lepas dari penjara setelah dikurung sekian lama. Atau karena ingin berlari dari sesuatu? Mencari penghiburan? Masih teka-teki silang. Setelah Garut, Buitenzorg, Sumedang Tandang, saya kembali melakukan perjalanan ke Garut Kota Intan. Beberapa teman ingin melihat hijaunya sawah dan mengabadikannya dengan kamera. Padahal, itu sungguh dusta. Sesungguhnya adalah ingin mencicipi sambal oncom buatan nenek saya dan makan baso kampung asli sana.

PLN Brengsex!

Image
Perjalanan kali ini adalah menuju Sumedang Tandang. Ada sate kambing dan gurame bakar yang hendak kami buru di sana. Konon, itu adalah sate kambing terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laku nian oleh para PNS pada setiap jam makan siang. Penuh selalu. Pemiliknya saja sampai mampu membeli sebuah pom bensin. “Lemaknya menetes, Ndi. Dan ngga bikin kepala pusing.”

Surat Cinta #747

Tidak mau saya mengawali surat ini dengan sapaan Apa Kabar? Benci sekali dengan kalimat yang terlalu sering diucapkan banyak orang itu. Ditambah dengan jawaban yang mudah tertebak sebelumnya. Artis favorit kita Pinkan Mambo juga sering melantunkan itu, bukan? Saya kasih tahu, ya. Di sini sedang musim hujan. Banjir selalu mengancam setiap saat. Atap rumah bocor dan tetesan air mengukir banyak jejak di dinding kamar. Untungnya, tak ada korban.

Lima Saja Cukup

“Jadi laki-laki itu harus begini, begitu. Jangan bla bla bla.” Kira-kira, demikianlah yang diucapkan seorang kawan perempuan feminis pada saya di malam minggu lalu sewaktu kami menunggu antrean karaoke. Disampaikannya kalimat tersebut dengan iringan kekesalan. Wajar, beliau sedang datang bulan. Tapi, bukan itu yang terpenting. Juga tidak penting apakah sewaktu menyanyi suara saya bagus atau sebaliknya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah apa yang dia bilang ternyata sama dengan kebanyakan orang. Semua bilang begitu. Dan semua menyudutkan saya. Dan karena saya tidak suka membela diri, maka saya iya-iya saja sambil menganggukkan kepala.

Mic and Me

Pertanyaan : Perempuan seperti apa yang paling sulit ditemukan di zaman ini? Jawaban : Perempuan yang tidak tertarik pada ponsel dan segala aktivitas yang berhubungan dengannya. Sungguh jawaban yang sangat mencengangkan saya. Terhenyak saya sesaat. Diam sejenak untuk mengatur nafas. Dalam hati, “ Women …” Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan benang basah. Memang tidak nyambung. Jangan protes. Saya sedang kesal hari ini. Kalau sedang kesal, terserah saya mau menganalogikan segala sesuatu dengan apa. Sekiranya saya analogikan bahwa memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan H2 dan O dari air, bisa-bisa saja, bukan? Satu kali lagi, ah.

Maju Produk Cibaduyut!

Kata orang bijak, tidak boleh kita menghitung-hitung kekayaan. Apalagi, kekayaan tetangga. Tapi malam ini tidak ada yang bisa saya lakukan mengingat mata terlalu segar untuk dipejamkan. Jadilah saya mulai mencatat inventaris barang yang berhasil saya beli selama ini. #1 TV Asatron 14”. Dibuat di negeri Cina, lalu dikirim dengan kapal dagang. Harga 500 ribuan. Tidak saya tawar. Sudah menjadi kebiasaan saya tidak suka tawar-menawar. “Tabungnya LG, Mas,” begitu yang dibilang si penjual di bilangan pusat elektronik Jalan ABC tiga tahun lalu. Namun, bukan karena alasan tersebut saya beli itu tivi. Tapi lebih karena terjangkau harganya. Kondisi si tivi saat ini cukup memprihatikan. Selain terbungkus oleh lapisan debu tebal, remote-nya pun sudah pensiun entah sejak kapan. Tombol-tombolnya nyaris tanpa guna. Kalau saya tekan channel 5, yang muncul channel 10. Jika saya naikkan volume, yang terjadi adalah bergantinya mode, dari TV ke mode AV. Tadinya mau saya berikan ke adik s...

Monyet Berbulu Domba

“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu. “Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.” Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?” Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.” “Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?” “Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.” Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?” “Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”