Alif Ba Ta

Dan tiba-tiba saja saya bilang,
“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”
Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”
Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post-it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya dengan acuh tak acuh: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.