I Love U, JK




Ini adalah penghinaan terbesar dalam hidup saya. Sigh. Sebagai seseorang yang sombong, sebagai lelaki (yang sombong), bahkan sebagai warga negara (yang juga sombong). Suatu hari penghinaan ini harus terbalaskan. Semoga Tuhan segera mencairkan dendam ini. Sigh.

 Memutuskan untuk menjilid proposal sambil shalat Jumat di luar kantor, saya temukan lalu lintas Bandung jauh lebih macet dari biasa. Rupanya, sang wakil presiden beserta rombongan duapuluh lebih kendaraan sedang melakukan kunjungan ke kota ini. Seorang polisi menahan laju motor saya di bilangan Pasteur sampai iringan panjang tersebut lewat. Saya menanti dengan perasaan was-was, memperhatikan gerak-gerik polisi tersebut.

Bagaimana lagi… tak ada SIM di dompet, dua tahun pajak STNK belum terbayarkan, plus pelat nomor di belakang buntung setengahnya.

Surat untuk Bunda

Ada kabar gembira dari puteramu ini, Bunda. Atas berkat doamu, aku telah diterima kerja. Setelah duapuluh lima tahun engkau urusi, tiba waktunya bagi si manja ini memberi sesuatu untukmu dari gaji pertamanya. Tidak. Aku tidak akan memberitahu apa itu. Biarlah ini menjadi sebuah kejutan manis menjelang hari lebaran saat aku pulang nanti.

Tapi kebahagiaan kita tidak hanya sampai di situ. Tuhan telah bermurah hati mempertemukan aku dengan calon menantumu. Memang, ia tidak secantik Bunda di masa muda dahulu. Maafkan pula jika perempuan ini belum pandai memasak, Bunda, apalagi mengaji. Ia belum bisa menakar garam dan gula, juga membedakan huruf ”ba” dan ”ta”. Namun, percayalah, ia seorang yang istimewa.

Gundul Pacul

Akhirnya…
Setelah berjibaku dengan the man on the mirror, bernapas dalam lumpur, tenggelam dalam kesedihan, akhirnya saya, a.k.a Andi Eriawan, memutuskan untuk… menggunduli kepala.

Tiga tahun dalam masa gondrong, memaksa saya untuk keramas nyaris setiap hari. Padahal, pada dasarnya, saya adalah orang yang… jarang mandi. Ini bukan saya, saya pikir. Pantas saja saya merasa ada yang keliru. Meski, tentu saja, rambut saya bebas dari kutu.

Jadilah, seminggu kemarin saya digunduli.

Pada mulanya, rencana mutilasi rambut dimulai dengan penuh khidmad. Diawali tekad baja sejak dari rumah, hati saya tiba-tiba gentar sewaktu memasuki sebuah barbershop di kawasan Taman Lalu Lintas, di Bandung sana. Bagaimana tidak?! Sewaktu kaki melangkah masuk, saya tidak hanya disambut hembusan pendingin ruangan, tapi juga sapaan seorang makhluk manis bernama perempuan. Untuk sesaat saya hanya berdiri mematung, mungkinkah saya salah masuk salon?