Syuh... Syuh...

“Duh, saya sibuk banget! Ngga sempat makan. Jadinya kena maag…”
“Deadline sialan!”
“Hari kemarin, lembur. Besok lembur lagi!”
“Maaf, saya ngga bisa. Banyak kerjaan di kantor…”
“Ugh, boro-boro nonton. Bisa mandi aja sudah syukur….”

Ini mungkin yang dimaksud dengan istilah: dipoyok, dilebok. Artinya: ngeluh, tapi terus dilakukan. Atau, ada juga beberapa yang hanya ingin memberikan kesan kepada orang-orang bahwa,
“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Syuh syuh…”

Dan sebaliknya, banyak sekali… banyak nian yang bertanya pada saya betapa saya ini tampak santai dan tidak ada kerjaan. Sempat-sempatnya menonton dvd, jalan-jalan melulu, karaoke, ongkang-ongkang kaki, kongkow di kafe…

Mual

kamu pasti tidak tahu
bahwa sesedih apa pun suasana hati
sekecewa apa pun
sakit apa pun juga


saya



saya masih bisa makan

dan menikmatinya


jika makanan itu pacar
dan makanan enak itu pacar yang menyenangkan
dan makanan mahal itu pacar yang matre

kami sudah puluhan tahun berpacaran

Satu Milyar Duapuluh Satu


Adalah waktu itu tengah malam di bukit Sukawana. Berempat kami membangun sebuah tenda dom, menghangatkan tubuh di sekeliling api unggun sambil memanggang sosis yang ditusuk ranting cemara. Di belakang kami, bayang gelap Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Di hadapan, terhampar kerlip lampu kota Bandung penuh warna dan warni. Ada biru laut. Ada kuning langsat. Ada pink tua. Juga ada hijau botol.

Botolnya botol saos.

Sementara langit, terlalu banyak yang dapat diceritakan tentangnya. Seperti bintik jerawat di wajah kamu, langit malam ditaburi semilyar duapuluh dua bintang. Baru usai saya hitung semua, satu persatu. Lalu kembali mengulangnya dari awal. Kali ini masing-masing bintang saya beri nama.

Dan bulan, di manakah engkau berada?

Monyet!

Luar negeri itu begitu memikat, ya. Menawan hati sebagian besar orang. Dari mulai ingin kuliah, bekerja, sampai dipinang bule dan diboyong mereka untuk tinggal di sana.

Di luar negeri itu, kotanya bagus. Bangunannya bagus-bagus. Jalannya rapi. Ah, tidak seperti Indonesia. Masyarakatnya pun tertib. Tidak ada yang buang sampah sembarangan. Dan teknologinya maju sekali. Pelayanan masyarakatnya pun luar biasa.

Begitulah cerita mereka sepulang dari luar negeri.

Lalu, bagaimana dengan saya?
Hmm.

Lontong!!




Ceritanya, minggu lalu kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita. Letaknya di enampuluh kilometer arah barat laut Rangkasbitung. Dan di mana itu Rangkasbitung, bukan tanggung jawab saya untuk memberi tahu. Dan benarkah ke arah barat laut? Dan benarkah enampuluh kilometer jauhnya? Jujur, saya sekedar sok tahu. Mungkin lebih, bisa kurang. Data tersebut disampaikan hanya cuma sekedar formalitas belaka sahaja, yang bila dihapus, tidak akan mengurangi maknanya barang sedikit pun.

Nama-Nama Bulan

dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji

sssttt…
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet