Jalangkung atau Maling

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki masa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.