Jalangkung atau Maling

Setiap orang bebas untuk datang dan pergi dari kehidupan orang lain. Jaman demokrasi, gitu. Dalam hal ini saya setuju-setuju saja. Asalkan dengan cara yang sopan, tentunya. Mesti ada ketuk pintu. Ada permisi. Termasuk berpamitan untuk sekedar basa-basi. Biar tidak dikira jalangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Juga biar tidak digebuki masa layaknya pencuri alias maling.

Beberapa minggu yang lalu, seseorang mendobrak pintu kehidupan pribadi saya dengan cara dan gaya lama. Berondongan sms, e-mail dan telepon. Saya—yang meski sombong, berintelegensi di atas rata-rata, dan terbiasa memilih bertemu muka daripada berpetualang di dunia maya—tidak kuasa untuk menahan itu semua. Akhirnya, ia terbiarkan masuk dan mengacaukan dimensi—yang saya sebut—xlindosat.

Ramadhan


maraban hayam ku huut
maraban domba ku jukut

Marhaban ya Ramadhan

Mitos, Legenda dan Mistik


“Kamu percaya Sangkuriang?”

Teman saya yang paling saya harapkan menghilang dari muka bumi itu bertanya sekali waktu, tanpa malu-malu dan sedikit belagu.

“Tentu saja tidak!” jawab saya ketus, melemparnya dengan tutup kakus. “Saya lebih percaya pada Dayang Sumbi.”

Mungkin karena terbiasa dengan sikap saya yang demikian, dia hanya tersenyum, menangkis lemparan tutup kakus saya dengan tutup drum.

“Bukan itu maksud pertanyaan saya. Tapi, apa kamu percaya dengan keberadaan mereka?”

Things

Terlalu banyak hal yang terjadi dalam dua bulan terakhr ini. Saya juga terlalu sombong untuk sekedar membagi itu semua dalam blog ini.

“Ah, yang bacanya dikit, kok,” kata teman saya.

“Ngaku aja, malas gitu,” kata teman saya yang ke dua.

Oke. Saya akui. Kalimat teman saya yang ke dualah yang benar. Saya agak malas mengisi blog ini. Kenapa? Karena yang bacanya di…

Tapi, malam ini saya ingin menyombongkan beberapa hal.

Ketemu Artis

Dua minggu yang lalu saya mengantar seorang teman berinisial Z untuk mengikuti audisi sebuah film layar lebar di Jakarta. Seperti artis-artis beken lain, yang karirnya justru berawal “cuma nganter temen casting”, dengan penuh harap, pengalaman akting nol, ongkos pergi tanpa pulang, kami berdua pun berangkat.

Dollywood… We’re comin!!

Untuk menghabiskan waktu selama di perjalanan menggunakan kereta, Z meminta saya menyusun speech seandainya beliau nanti mendapatkan piala Citra-nya untuk pertama kali. Tentu saja, saya tempatkan nama saya di urutan pertama ucapan terimakasih. Dia juga bilang bahwa menjadi bintang film akan membuka cita-citanya menjadi RI-1.

Abituari


Telah pergi – di Rabu kelabu – handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa.

Ah…, seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.

Ketika Penulis...


jatuh miskin… maka dia tidak akan mampu untuk membalas sms-sms, keluyuran, nonton bioskop, pacaran, ngewarnet, pulang kampung, bayar hutang dan tentu saja: ngeborong dvd-dvd bajakan. Tapi, justru pada saat seperti itulah proses saya dalam menulis novel jadi berjalan lancar.

Lah wong ora ono kerjaan lain…

Dua bulan yang lalu, seorang pembaca pernah mengirim sms dengan isi kurang lebih kayak gini:

“MAS, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR.”

Dalam hati saya, “Ngga tau apa kalo ngga ada pulsa, Neng!”

Malah hampir hangus nomer hp saya. Kalo kirim sms, sertakan pula dengan pulsa balasan…

The Name of the Rose




Membaca novel Umberto Eco: The Name of the Rose ini seperti membaca sebuah manuskrip tua zaman Mesir kuno. Kaga ngarti. Meski saya percaya bahwa si penulis memang seorang ahli semiotika kelas dunia… tapi plis dong… membacanya saja sulit. Setidaknya, dua teman saya yang sudah membacanya, yang saya yakini mereka memiliki intelejensia di atas rata-rata, pun menyatakan hal yang serupa. Apalagi, telah diterbitkan pula buku panduan bagaimana membaca The Name of the Rose.

rindu


ada yang merindukanmu
diantara derik jangkrik
tangis gerimis
dan senja yang manja

Bandung, 01 April 2005

hujan


dan hujan pun takkan mampu
patahkan tekad untuk menemuimu
bahkan kita dapat menghitung bersama curahnya
lalu,
sesekali cahaya kilat
menyapa wajah kita
kau akan takut, mendekat
dan sedikit merapat

Cape


selama ini…
kubawa-bawa hatiku sendirian
berat tahu!
cape-cape kutata hati ini buat kamu
eh…, kamu berantakin lagi…

Bandung, 20 April 2005