Pernah, dong, ah...

Ada sebuah catatan yang masih segar dalam ingatan saya tentang sebuah kejadian. Berdua, kami duduk di sebuah meja bernaungkan tenda parasol. Jalan Bali nomor satu. Tepat tiga tahun lalu.

Apa yang bisa dibicarakan dua manusia selama dua belas jam tanpa henti?

Hidup, masa lalu dan mimpi.

Kamu, seorang perempuan yang paling saya percaya. Perempuan yang tak bisa berhenti untuk terus dicintai banyak orang. Dan saya, juga mereka, tidak pernah khawatir akan kamu buat terluka.

Resolusi Tahun Baru

Selama delapan tahun terakhir, malam pergantian tahun saya lewati dengan tidur nyenyak dibarengi mimpi indah. Tidak ada itu pesta kembang api, hura-hura, euforia dan romantisme harapan tahun yang baru saja datang. Dalam hal ini, hati saya dingin dan datar saja. Nyaris memandang itu semua secara sinis, malah. Karena itu, tidak pernah saya repot-repot menyusun resolusi.

Tahun baru adalah hari libur sedunia. Tanggal merah. Merah hati. Hati-hati di jalan, sayang.

Resolusi adalah tingkat ketajaman sebuah gambar atau image. 800 x 480 adalah resolusi monitor laptop Asus EEPC milik saya yang kecil dan imut. Juga lucu. Tapi kalau marah, galaknya tiada dua.

Pergi, Jangan, Jangan Pergi


bandung adalah setetes embun
yang tergelincir dari dedaunan
setelah hujan turun semalam
juga matahari pagi
yang tak pernah disambut hangat
oleh penghuninya

bandung adalah santai
dan terlambat itu biasa saja
sekaligus macet, semrawut
dengan sistem lalu-lintas yang ruwet

Ember

lalu kusingkap rahasia pada mereka
tentang persahabatan kita
yang teranyam jerami rindu untuk segera bertemu
dan kenangan perjumpaan singkat lalu

ini bukan kisah cinta, kataku
mengutip ucapanmu

What Came with Love is Lost

seandainya nanti
kudiberkati dengan putera-puteri
kan kuceritakan tentang engkau, bunda
seorang perempuan mulia
baik tingkah maupun rupa

seandainya kelak
anak-cucuku terlahir ke dunia
kan kudendangkan syair-syair
tentang indahnya ku di masa kecil
di mana engkau, bunda
adalah cahaya di rumah kita

Hari Ibuuuu

kalau kamu tanya saya baru dari mana
saya berani bertaruh berapa saja bahwa
kamu pasti tidak bisa menjawabnya…

sepintar apa pun kamu
setinggi apapun ipe kamu





Airmata, Aisa

Teruntuk Aisa,
seorang anak perempuan
yang tak pernah bisa berhenti
untuk dicintai

Aisa Sayang, ada yang berbeda kali ini.
Bapak menangis tadi malam.

Untuk Rini di Cimahi

Bandung, 25 Oktober 2005

Dear, Rini.
Beribu maaf, kamu harus menunggu begitu lama untuk dapat menerima surat balasan ini. Kebiasaan buruk menunda segala sesuatu memang sudah menjadi kekurangan saya yang paling mendasar.

Sekali lagi… maafkan.

Ada kelegaan luar biasa sewaktu saya membaca surat kamu. Ternyata, kamu menyukai novel itu. Bahkan, kamu ceritakan juga tentang tokoh Pram yang kamu suka. Sungguh, bertambah lagi satu alasan bagi saya untuk terus menulis. Terimakasih.

Jadi, bagaimana kabar kamu? Sudah tidak jemu lagi menunggu?


Janji Bangun Tidur

Pagi ini saya terbangun dalam kondisi tubuh yang lemah. Lemah gemulai. Seperti bencong. Pandangan mata berkunang-kunang dan hidung basah tidak kepalang. Tissue berserakan di sisi ranjang. Serangan virus influenza sudah memasuki hari ke tiga, sementara belum satu pun obat farmasi yang tertelan tenggorokan saya.

Masih sedikit tenang, sebenarnya. Sebab rokok dan kopi belum berubah rasanya di lidah.

Pada awalnya, saya pikir ini sugesti belaka bahwa saya sedang sakit. Namun, rupanya saya sudah tidak setangguh dahulu. Sewaktu lari pagi, beladiri, bulutangkis, lari sore, fitness dan naik gunung masih menjadi kegiatan sehari-hari. Saat push-up limapuluh setiap bangun tidur, barbel lima kilo sebelum naik kasur.

Onta

“Andi, apakah setelah menikah nanti kamu akan selingkuh?”



Tadi malam, pertanyaan tersebut diajukan kepada saya oleh seorang calon ibu yang tengah hamil tiga bulan. Bukan. Bukan saya si pelaku penghamilan, tapi suaminya sendiri, tentu saja. Saat ini si suami sedang bertugas di negeri nabi berasal. Tak perlulah kita lakukan test DNA. Buang-buang waktu dan uang berharga.

“Tidak.”

Begitulah jawaban saya. Saya menjawabnya begitu cepat. Sangat cepat. Kurang dari satu detik. Tanpa menimbang. Tanpa berpikir. Tanpa merengut, menggerakkan alis, atau mengerutkan dahi. Kuping saya tidak bergerak dan sudut mata tidak berkedut. Air muka saya tidak berubah. Refleks saja. Seperti seorang jagoan silat yang menangkis serangan tiba-tiba dari arah belakang.

”Andi bohong.”

Jumpalitan

Teruntuk Litan,
seorang perempuan
yang padanya ingin kutitipkan
cinta yang utuh,
tali erat persahabatan,
keping demi keping kenangan,
rasa percaya,
jendela masa depan,
pintu menuju masa lalu,
keluhan dan kesahan,
derai tawa serta air mata,
sebentuk rindu,
segenggam cemburu,
juga gairah menggebu…

Masturbasi Spritual dan Emosional

Istilah ini saya pinjam dari seorang teman kantor ketika kami membicarakan betapa maraknya berbagai training motivasi. Tujuan setiap program adalah sama, meningkatkan motivasi para peserta agar mereka dapat lebih bersemangat, baik dalam konteks bekerja, menjalankan kehidupan sampai mengejar kekayaan. Juga meningkatkan keimanan.

Saya sendiri bukan tidak pernah mengikuti berbagai training seperti itu. Di tahun-tahun pertama kuliah, entah berapa banyak jenis training motivasi yang pernah saya ikuti. Termasuk doa-doa bersama yang mencucurkan air mata. Setiap kali lulus dari program tersebut, saya serasa lahir kembali dengan jiwa baru. Merasa lebih bersih dan bersemangat.

I Love Goat

Dari semua hewan yang terdapat di seluruh permukaan bumi, saya sangat bersyukur Tuhan menciptakan kambing.

Sate, steak, gulai. Ah, sedapnya.

Sampai-sampai saya berpikir bahwa… ini mungkin hidangan kiriman dari warung-warung di surga. Pernah suatu kali saya habiskan empatpuluh tusuk sate kambing dalam waktu kurang dari satu jam. Saya potong-potong sendiri itu kambing. Saya tusuk-tusuk penuh nafsu. Lalu saya panggang. Bumbu maranggi tidak terlupa disertakan: kecap, bawang, cabe ijo. Malam harinya dilanjutkan dengan pesta lamb chop. Jangan tanya berapa yang masuk ke dalam perut.

Idul Adha dua tahun lalu. Salah satu hari terbaik di sepanjang hidup saya.

Memory Salon Memory

ada yang mengetuk di balik pintu
desau angin, rintik hujan, gemerisik daun
mengirim berita
kau takkan pernah tiba

siapa yang mengendap di atas atap?
tikus rumah dan kucing malam, rupanya
kata mereka
kau tidak lagi singgah

Dan Google pun Angkat Tangan

“Apa yang kamu cari, Andi?”







Haji Mabrur

teruntuk kamu yang tercinta
yang hendak mengetuk pintu langit
menelusuri tapak risalah
mengenal jejak riwayat
dan menyempurnakan rukun syarat

semoga kembali
menjadi putih dan suci

doakan saya untuk segera ke sana
menjadi tamunya


“Every man dies, not every man really lives.”
[William Wallace, Brave Heart]

Bandung, 24 November 2008

We and Uskun


sejak kelas 2 sd
adik saya
punya cara mudah untuk
mendapatkan uang saku
karena
almarhumah ibu saya
rela mengeluarkan uang lima ratus rupiah
demi kutu-kutu di kepalanya

Berkencan dengan Iblis


“Andi, jika kamu diberi izin untuk membunuh 5 orang, siapa saja yang akan kamu masukkan ke dalam daftarnya?”

Itu adalah pertanyaan yang dilemparkan ke wajah saya kemarin malam di tengah kencan kami di sebuah kafe dengan menu yang teramat mahal, tidak enak dan tidak mengenyangkan. Sampai tersedak saya dibuatnya. Merasa tertampar, juga. Sekiranya ada cermin, ingin saya lihat rona merah di wajah saya. Sekaligus waktu yang tepat buat bedakan.

Untuk sesaat saya hanya diam membisu sambil menatap wajahnya yang, ehm, tanpa cela itu. Proporsi dan susunan daging-tulang yang nyaris sempurna. Sebuah jerawat kecil tampak samar-samar menempel di atas alis, sedikit merusak keseimbangan pola. Namun, langit malam bertambah indah justru karena adanya bintang, bukan?

Achtung!


Halaman ini untuk sementara tidak akan di-update. Tidak akan ada postingan baru. Mungkin sampai kapan, entah nanti.

Saya sedang sombong dengan hobi barunya yang lain.
Dilarang protes…

Hormat saya,
AE
singkatan dari Andi Eriawan

7 Jurus Hidup Aisa


Aisa, cinta bapak.
Untuk petama kalinya bapak menyuratimu di siang hari. Matahari masih tinggi di luar sana. Di tengah kesibukan yang diam-diam mencuri keping demi keping jiwa ini, bapak sempatkan melamun, memikirkan kamu. Seandainya saja kamu sudah dilahirkan ke dunia, saat ini juga bapak tinggalkan kantor dan mengajakmu bermain di taman, sambil menikmati es krim sebanyak kamu suka.

Ya, kita berdua bersekongkol melanggar aturan ibumu, sayang.

Was Wes Wos

mari kita uraikan satu per satu
tentang sejarah masa lalu
tentang detik demi detik yang tengah berlompatan
dan masa depan yang begitu sulit diraba

bukankah telah berulang kali diceritakan
dalam lelaki ini
bersemayam iblis paling sadis
tertidur pulas malaikat pencabut nyawa

jangan usik mereka…

Goodbye, Pluto

Seandainya saja ia masih hidup, pastilah Clyde Tombaugh saat ini tengah uring-uringan dan marah besar. Bagaimana lagi. Pluto, benda luar angkasa yang ia temukan lewat teropongnya di Observatorium Lowell Arizona Utara pada awal abad duapuluh telah ditendang keluar dari daftar planet pengorbit tata surya kita. Dengan alasan yang dibuat-buat, para astronom dunia yang terkumpul dalam International Astronomical Union (IAU) mengumumkan suatu definisi baru tentang pengertian sebuah planet.

Sialnya, Pluto tidak memenuhi kriteria-kriteria itu.

Where Art Thou?


"Kamu di mana?"

Pertanyaan itu selalu menggema.
Sesak dada saya dibuatnya, tahu.

Ataukah kamu memang ingin menghentikan
kisah yang belum kita mulai ini?

Bandung, 04 November 2008


Tahukah, tahukah...

hey, kamu yang jauh di sana
yang diam-diam
dan sungguh-sungguh
memperhatikan


yang sudah begitu lama
tidak tertawa
yang menangis
pada jam-jam malam
yang selalu mengadu
pada riak air mengalir

Roti

tadinya saya mau garang dan galak
akibat kamu mendiamkan saya
seribu huruf sepasi tanda baca titik koma

namun...

*sigh

badan saya semakin kurus
padahal
saya ngga ngurusin siapa-siapa
ngga ada tanggungan anak, istri atau janda desa

Aisa Sayang, Aisa Malang

Aisa sayang,
Ketika menulis ini, bapak sedang berada dalam cobaan-Nya. Sudah tiga hari tubuh satu-satunya ini dilanda panas dan demam. Kemampuan bapak dalam mencicipi makanan pun tertawan entah sampai kapan. Tidak berasa itu makanan. Sampai-sampai, merokok pun tak enak rasa.

Di malam hari, tidur bapak gelisah gundah gulana. Pantat pun tidak bisa diam di satu tempat saja. Semua posisi selalu serba salah. Setiap pukul dua dini hari bapak terbangun, lalu ke kamar mandi. Tidak usahlah bapak jelaskan di sana apa yang terjadi.


Ancaman #3802


Teruntuk kamu,
Seorang perempuan dengan komposisi kecantikan
50% genetik + 30% fashion + 6% intelegensi - 20% behave 

Celana dalam…

Saya baru saja sampai kamar dan kedinginan. Hujan di luar sana, badan saya basah semua. Dari ujung rambut sampai ujung kumis yang, maaf-maaf saja, sengaja bandel belum dicukur habis. 

Bagaimana kabar kamu hari ini? Adakah pertanda menuju pencerahan?

Tembok Cina

Assalamu'alaikum, wahai tembok.

Izinkanlah saya mengutip sebuah quote yang cukup terkenal: 
"There is not a thin line between love and hate. There is, in fact, a great wall of China..."

Adapun maksud saya mengutip quote tersebut adalah tidak lain tidak bukan untuk mengingatkan kamu kembali bahwa diantara kita tengah berdiri kokoh tembok yang amat tebal -- yang dengan sengaja kamu bangun.

Si Alan

Kamu tahu, kamu sudah berbuat jahat terhadap saya. 
Diam kamu itu sungguh perbuatan yang kejam. 

Adakah sesuatu kesalahan yang sudah saya lakukan? 

Ah, saya benci pertanyaan itu. 
Tapi sekiranya memang demikian, saya tidak akan minta maaf.

Menghadap Tembok

Sewaktu saya masih sekolah SD dahulu, pernah suatu kali bapak memanggil saya dan bilang begini. “Andi, maukah bapak ceritakan tentang dunia perempuan dan seluruh penghuninya?”

“Tidak, bapak. Jangan. Saya masih kecil.”

“Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui tentang dunia mereka, Andi. Suatu hari nanti kamu akan memasukinya. Sudah sepantasnya bapak memberikan bekal pengetahuan tentang hal tersebut. Semoga kelak, jikalau kamu menghadapi tembok besar dalam hidupmu, kamu akan teringat akan pesan-pesan bapak yang tidak seberapa ini.”

Basah-Basah


Basah bumi di luar sana.
Empat hari tidak saya lihat matahari.
Tuhan, adakah ini pertanda cucian saya tidak kering lagi?
Haruskah saya kenakan juga kemeja hari kemarin?
Bagaimana dengan besok?

Ataukah ini sekedar gambaran… cuaca di hati?


Bandung, 28 Oktober 2008

5 Hal Penting Tentang Saya

Seorang kawan lama mengunjungi blog ini. Komentar pertama dia adalah, “Mana tentang kamu-nya?”

Saya bingung. “Maksud kamu?”

“Maksud saya… mana tentang kamu-nya?”

Diam sesaat. “Maksud kamu?”


Baiklah. Daripada daripada, mendingan-mendingan. Mari saya jelaskan lima hal penting tentang saya. Iya, saya ini, a.k.a Andi Eriawan.

Aisa, Ibu, Nikotin dan Kolesterol

Sayang, malam mulai mencair ketika bapak menulis ini. Sementara besok, tumpukan pekerjaan harus bapak tuntaskan. Seperti batu bata, kamu tahu. Ah, kamu masih muda, sulit untuk mengerti semua. Biarlah satu persatu terurai dengan sendirinya. Tanpa kami, sebagai orangtua, paksa kamu untuk mengerti segala sesuatunya.


Aisa, sedang apa ibumu? Apakah sedang memasak di dapur seperti biasa? Masihkah ia mencoba resep andalannya itu, kue kering dengan keju melimpah ruah? Meski ayahmu dilarangnya menghisap nikotin, dia senang sekali menyuapi kita dengan kolesterol. Tapi, jangan sekali-kali kamu adukan hal ini, ya. Nikotin dan kolesterol, dua hal yang paling berarti bagi bapak setelah kalian berdua.

Surat Terbuka

Wahai Agen Asuransi 007
yang saya hormati
di mana saja berada

Melalui surat ini saya beritahukan bahwa dengan sangat menyesal saya, a.k.a Andi Eriawan, tidak akan mengikuti program yang kalian tawarkan. Berikut di bawah ini adalah catatan panjang yang memuat berbagai alasan dan argumentasi mengapa saya menolak untuk bergabung. Karena itu, saya harap surat ini dibaca dengan ditemani segelas kopi kental. Semoga jawaban saya memuaskan dan hubungan kita tetap berteman.

Penuaan Dini






















Beberapa hari yang lalu, saya berulang tahun
Saya bertambah tua
Tubuh semakin membungkuk
Perut membuncit
Uban di mana-mana
Rambut menipis
Keriput di tiap sudut
Pandangan semakin mengabur

Lompat Kodok

Malam ini saya berulang tahun. 
Kamu tahu yang ke berapa? 

29

Aih, bukan angka cantik, tentunya.

Cecak bin Kadal

jika ditanya
ke mana akan pergi
menujumu
atau kembali sunyi…


tapi jarak diantara kita
bukan tidak seberapa

butuh empat milyar dua puluh tiga
langkah cecak
untuk sampai ke sana

Jiwa yang Direnggut Paksa

Ada yang merenggut pagi milik saya, kamu tahu. Pagi yang berharga. Lebih berharga dari siang, sore atau malam. Pagi milik saya. Milik saya sendiri.


Banyak sekali yang salah dari hari ini, kamu tahu. Pagi-pagi benar, tidak saya temukan gelas bersih untuk minum kopi. Jadilah saya mencuci gelas pada pukul lima limabelas. Kemudian, tidak saya temukan pula air panas. Yang tersisa cuma air hangat sisa kemarin sore. Dasar saya manusia, saya pikir temperaturnya cukup, lah. Tahu-tahunya, saya kesulitan melarutkan bubuk Moccacino itu.

Jerawat Batu

pernahkah kau dengar
gerimis yang turun
seperti semalam…
rintiknya begitu berima
mendendangkan lagu-lagu kita

adakah kau pandang
bulan sepotong yang bersinar
seperti semalam…
cahayanya menari-nari di atas kepala
ciptakan silhuet berbagai peristiwa

Ancot


Kamu tahu.
Sudah sejak waktu yang cukup lama, saya merindukan naik angkot. Sekiranya ongkos tidak naik terlalu tinggi, bagi saya naik angkot dapat menjadi suatu wisata yang cukup menyenangkan. Saya bisa mengintip gerak pemandangan di luar jendela. Terlebih jika bisa bersama dengan seseorang yang saya istimewakan, tentu saja. Saya bisa melihat wajahnya dan kami bisa berbincang-bincang. Tentang hidup, masa lalu yang telah berlalu, masa depan yang masih panjang. Juga mengomentari penumpang sebelah sambil berbisik-bisik dan terkikik-kikik.

Do You Want to Know a Secret

Sudah lebih dari dua bulan tivi tidak saya nyalakan. Tidak ada berita yang saya tonton. Tidak ada gosip, sinetron, ceramah pagi ataupun mtv. Juga tidak ada koran yang saya baca. Tivi saya berdebu sangat tebal, seperti fosil tua yang baru ditemukan.

Lalu di kantor, dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, rentetan peristiwa baru saya dengar dari selintas obrolan.

“Amerika resesi. Pasar saham dunia turun.”
“Puluhan orang jadi korban miras oplosan di Indramayu.”
“Rupiah semakin melemah.”
“Exxon berusaha mendapatkan sumur minyak.”
“BCL menikah bulan November.”
“Badawi siap diganti.”

Di Mana Kambing Saya?

waktu itu saya masih solehah
setiap terdengar adzan berkumandang
langsung segera mengambil wudlu

di tahun-tahun pertama kuliah
saya ini aktifis masjid

pasti kamu ngga percaya

tapi
demikianlah adanya

malahan
saya sempat menduduki 
jabatan-jabatan penting

salah satunya
ketua divisi hewan kurban

Pantai


saya ingin mengajak kamu
ke pantai

sudah beberapa lama
saya memimpikan itu

kita berdua melihat laut

Apanya, Ya?


hari ini saya sibuk banget
sibuk sekali
mondar mandir ke sana ke mari
telepon rang ring ngga berhenti
rapat melulu
kerjaan menumpuk
sampai-sampai saya ngga sempat berkedip
apalagi makan minum

Meramal Masa Depan


saya ingin bertanya
tentang masa depan

tapi
saya takut

kamu tahu kenapa saya takut?

karena itu dosa
kita dilarang percaya ramalan
dan kamu bukan mama lauren

Ahmad Dani


kamu boleh benci seluruh dunia
tapi jangan pernah benci
ahmad dani


janji?

PTDI


saya takut ketinggian

ya, seperti setiap superhero di dunia
kami memang punya kekurangan

dan saya sekarang bekerja di pabrik pesawat
untuk menaklukkan rasa takut itu

Bandung, 09 Oktober 2008

H-1

Aisa, sayang.

Besok bapak berulang tahun. Kado apa yang sudah kamu siapkan? Bapak harap kado kamu tidak seperti yang selama ini ibumu berikan. Seleranya aneh. Sewaktu ulang tahun ke-22, masa bapak dihadiahi boneka? Setahun kemudian, bapak menerima cd lagu, sementara bapak tidak punya mesin pemutarnya. Lalu, ada sebatang cokelat yang menyebabkan bapak tumbuh lima jerawat. Salah satunya di pantat. Pernah juga bapak menerima novel Harry Potter 2, sedangkan nomor pertamanya belum lagi bapak baca.

Tapi, sayang, jangan pernah ceritakan ini pada ibumu, ya. Bagaimana lagi. Bapak tetap suka dengan yang gratis-gratis.

Sleepless

Tadi malam saya ngga bisa tidur. Bukan. Bukan karena mikirin kamu. Tapi, karena kamar saya ngga rapi. Itu aja.








White Flag

tiba-tiba
kamu mengajak kita
melihat laut bersama

sialan

apakah kamu tidak tahu
cuaca memburuk akhir-akhir ini
angin bertiup kencang menerbangkan apa saja
ombak pasang hingga beberapa meter tingginya
nelayan saja sampai terhalang mencari nafkah
dan kapal-kapal laut terpaksa ditambatkan di dermaga

Minal-Minul

Sampailah saya pada bagian yang paling menyebalkan dalam berlebaran, yaitu memaafkan. Tiba-tiba saja saya dituntut untuk memberi maaf pada mereka. Kesalahan segunung, minta dihapus dengan modal sms di bawah seratus perak. Itu pun tanpa menyebutkan nama saya, menandakan sms tersebut dikirim secara massal ke banyak orang.

Saya… seorang saya… mereka sama ratakan dengan lainnya?

Termasuk kamu, yang tiba-tiba muncul di malam buta. Minta maaf saja tidak cukup. Apalagi sampai minta oleh-oleh.

Huh!

Sedu Sedan


Apa yang paling menarik dalam hidup ini?

Maafkan saya mengajukan pertanyaan paling bodoh sedunia itu. Bagaimana lagi, pagi ini saya terbangun dalam kondisi tidak karuan. Ada mood yang hilang, ada semangat yang tenggelam, ada gairah yang padam. 

Iya, saya berlebihan.

Mana? Mana?

ah, kamu
apa artinya berada di kota yang sama

tak ada kabar
isyarat
aroma parfume
yang tercium

Waiting for Godot



“Menunggu itu sebagian dari kencan.”
[Haruka, H2]

tapi, kok lama ya…



Bandung, 28 September 2008

Janji Pernikahan


saya termasuk salah satu
dari sekian banyak lelaki
yang suka janji-janji

bahkan mungkin
waktu saya menikah nanti
dengan seseorang
yang saya bilang adalah:

RSJ Riau 11

Teruntuk putriku, Aisa…
Ketika Bapak menulis ini, kamu belum terlahir ke dunia. Belum juga dikandung. Karena hati ibumu belum juga luluh untuk dinikahi. Meski demikian, bapak akan berusaha sekuat tenaga agar kelak kamu bisa membaca cerita ini: kisah hidup bapak dan semua rahasia yang paling terdalamnya. Juga yang paling kelam. Karena itu, apa pun yang terjadi, jangan biarkan ibumu membacanya. Ini milik kita berdua. Sudah sewajarnya seorang ayah memiliki rahasia kecil dengan putrinya, bukan?

Ah, Aisa. Untuk sesaat, bapak lupa hendak menulis apa. Bapak kebingungan hendak memulainya dari mana. Segala kisah pasti ada asal mulanya, tapi kali ini sungguh berbeda. Kamu tahu kenapa, sayang? Karena kepala bapak sibuk mengkhayalkan kamu. Seperti apa saat kamu membaca kisah ini. Apakah kamu tumbuh menjadi gadis cantik dan mandiri seperti ibumu? Seperti nenek? Pantang menyerah dan sedikit keras kepala? Penurut seperti bapak? Pintar diiringi tutur kata yang sopan, kah? Apakah kamu banyak teman? Hidupmu meyenangkan? Dan… siapakah laki-laki yang beruntung menjadi pacarmu, sayang?

Baju Mandi


kamu tahu
apa yang membuat seorang perempuan
terlihat seksi?

rahasia*

dan

dan

bagi saya
kamu selalu diliputi tanda tanya

Ya, Boleh, 'Ndi...




“Saya ingin jadi perempuan yang berbinar-binar, Andi, yang punya mata bercahaya seperti senter yang batereinya baru semua, dengan hati yang cukup besar untuk dibagikan kepada siapapun yang saya jumpai.”
  
Itu adalah jawaban atas pertanyaan 'Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini?' yang saya lempar pada seorang perempuan di seberang meja berjarak milyaran langkah jauhnya. Sungguh membuat saya terharu.

Shit Happens Every Tuesday



yah, itulah yang terjadi.
kalau kamu punya kemeja sedikit sekali
dan.. terlalu malas untuk mencuci

Miskin tapi Sombong

saya tau benar bagaimana rasanya
tak punya uang

pernah ada satu masa
di mana saya baru saja
lulus sarjana

kamu tahu
saya tidak mampu untuk
mengirim lamaran kerja

Calon Menantu


Pernahkah kamu merasa bahwa ternyata kamu sama sekali tidak mengenal orang yang selama ini berada dekat dengan kamu? Saya pernah mengalaminya, dan mungkin akan terus berulang.

Sepuluh tahun lalu. Waktu itu ade saya dioperasi amandel. Saya dan bapak memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Kami duduk berdua di sebuah anak tangga sampai larut malam, bercerita akan banyak hal. Suatu hal yang amat jarang sekali terjadi diantara kami. Awalnya tidak ada yang mengejutkan, sampai kalimat itu terlontar.

“Sebelum dengan Mamah, Bapak pernah menikah satu kali.”

Bukan Tentang Kita

cerita ini bukan tentang kita,
bukan tentangmu, bukan tentang aku
baik di masa lalu atau pun lain waktu
tapi terdapat banyak rahasia
yang tersembunyi dan terkunci
dan hanya kita yang bisa mengerti…

dan cerita ini memang bukan tentangmu
karena kamu tak mampu kulukiskan
lewat kata-kata mau pun tulisan
juga bukan tentang aku
yang hanyalah seorang biasa
baik tingkah mau pun rupa…


I Love U, JK




Ini adalah penghinaan terbesar dalam hidup saya. Sigh. Sebagai seseorang yang sombong, sebagai lelaki (yang sombong), bahkan sebagai warga negara (yang juga sombong). Suatu hari penghinaan ini harus terbalaskan. Semoga Tuhan segera mencairkan dendam ini. Sigh.

 Memutuskan untuk menjilid proposal sambil shalat Jumat di luar kantor, saya temukan lalu lintas Bandung jauh lebih macet dari biasa. Rupanya, sang wakil presiden beserta rombongan duapuluh lebih kendaraan sedang melakukan kunjungan ke kota ini. Seorang polisi menahan laju motor saya di bilangan Pasteur sampai iringan panjang tersebut lewat. Saya menanti dengan perasaan was-was, memperhatikan gerak-gerik polisi tersebut.

Bagaimana lagi… tak ada SIM di dompet, dua tahun pajak STNK belum terbayarkan, plus pelat nomor di belakang buntung setengahnya.

Surat untuk Bunda

Ada kabar gembira dari puteramu ini, Bunda. Atas berkat doamu, aku telah diterima kerja. Setelah duapuluh lima tahun engkau urusi, tiba waktunya bagi si manja ini memberi sesuatu untukmu dari gaji pertamanya. Tidak. Aku tidak akan memberitahu apa itu. Biarlah ini menjadi sebuah kejutan manis menjelang hari lebaran saat aku pulang nanti.

Tapi kebahagiaan kita tidak hanya sampai di situ. Tuhan telah bermurah hati mempertemukan aku dengan calon menantumu. Memang, ia tidak secantik Bunda di masa muda dahulu. Maafkan pula jika perempuan ini belum pandai memasak, Bunda, apalagi mengaji. Ia belum bisa menakar garam dan gula, juga membedakan huruf ”ba” dan ”ta”. Namun, percayalah, ia seorang yang istimewa.

Gundul Pacul

Akhirnya…
Setelah berjibaku dengan the man on the mirror, bernapas dalam lumpur, tenggelam dalam kesedihan, akhirnya saya, a.k.a Andi Eriawan, memutuskan untuk… menggunduli kepala.

Tiga tahun dalam masa gondrong, memaksa saya untuk keramas nyaris setiap hari. Padahal, pada dasarnya, saya adalah orang yang… jarang mandi. Ini bukan saya, saya pikir. Pantas saja saya merasa ada yang keliru. Meski, tentu saja, rambut saya bebas dari kutu.

Jadilah, seminggu kemarin saya digunduli.

Pada mulanya, rencana mutilasi rambut dimulai dengan penuh khidmad. Diawali tekad baja sejak dari rumah, hati saya tiba-tiba gentar sewaktu memasuki sebuah barbershop di kawasan Taman Lalu Lintas, di Bandung sana. Bagaimana tidak?! Sewaktu kaki melangkah masuk, saya tidak hanya disambut hembusan pendingin ruangan, tapi juga sapaan seorang makhluk manis bernama perempuan. Untuk sesaat saya hanya berdiri mematung, mungkinkah saya salah masuk salon?

A Big Sigh


Beberapa bulan terakhir ini adalah masa-masa yang amat melelahkan bagi saya. Selain perut yang semakin tebal dan dompet yang kian tipis, waktu tak ada dan uang tak punya, rasa bahagia pun menjadi hal yang semakin langka. Tujuan menjadi tidak jelas, dan langkah kaki entah hendak ke mana.

Baru sekali terjadi dalam hidup ini, ingin rasanya menyerah saja.

Batik KORPRI

“Sebenarnya, aku berasal dari masa depan,” tiba-tiba dia berbicara dengan mimik wajah kaku. Tanpa kedip mata, getar sudut bibir dan senyum sedikit pun. Malam itu kami sedang berteduh di balik atap sebuah halte bis seusai menonton film Milk yang ternyata lebih menyebalkan daripada yang dibicarakan temanku, Zoel. Melihat adegan dua lelaki berciuman segera membuat pantatku gelisah sejak pertengahan film diputar.

”Ya. Dan aku berasal dari Planet Namec,” kataku asal sambil menarik lengannya menuju sebuah bis yang mendekat. Tapi aku serasa menarik sebatang pohon beringin. 

”Aku ngga bercanda,” perempuan itu bersikukuh. Kali ini dengan nada yang hampir putus asa. 

Saking terkejutnya, aku hanya mematung di tengah derasnya hujan. Punggungku serasa tertusuk dipelototi mata sopir, kondektur dan seluruh isi penumpang. Setelah akhirnya bis meninggalkan kami, barulah kudekati dia dan kupelototi wajahnya. ”Bodoh!” umpatku, tapi dia sebenarnya tahu bahwa aku tidak bermaksud kasar. ”Itu bis terakhir, tahu! Jika kita terpaksa pulang naik taksi, kamu yang harus bayar ongkosnya!”

Hate My Self

Pernahkah kamu menjadi orang yang kamu benci? Saat ini saya sedang mengalaminya. Sialan.

Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, dalam satu bulan terakhir, mulut saya selalu menempel di mikoropon ponsel selama enam jam per hari. Tiga ratus ribu rupiah saya belanjakan hanya untuk pulsa simpati. Pikiran saya seperti dihantui. Jam tidur saya semakin menuju ke arah dini hari. Dan tentunya, semua pekerjaan saya jadi teraba-i. Dan celakanya, saya jatuh hati pada seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi masalah tidak selesai sampai di sini. Saya tidak tahu apakah si seseorang tersebut adalah perempuan atau … banci.

Rasa curiga tersebut muncul bukan dengan tanpa alasan. Seperti yang telah banyak diketahui banyak orang, saya adalah seorang lelaki pengagum kecantikan. Karena itu, ketika si seseorang tersebut menunjukkan gambar wajahnya, segera saya simpulkan bahwa titel cantik layak disandanginya. Penilaian saya tidak akan salah. Sekali-kali, tidak.

People Change? Yeah, rite!


JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.

People change? Yeah, rite!