Telur Dadar

pada masanya nanti
usai mengajar para kanak 
berhitung dan mengaji
diam-diam kita akan menangis
melihat mereka terlahir
tumbuh
dan bahagia

“Air matanya jangan sampai tumpah, Bu.”


begitu kata si bungsu
yang belum bisa terpisah
dari ranjang ibu-bapaknya


Alif Ba Ta

Dan tiba-tiba saja saya bilang,
“Di hari yang cerah ini, ijinkanlah saya membaca satu dua bait puisi cinta.”

“Ijin diberikan.”
Begitu kamu menjawab pelan.

“Apa?”
Tanya saya, pura-pura tidak mendengar.

Kamu meraih secarik post-it dan menuliskan sesuatu di sana. Diserahkannya pada saya dengan acuh tak acuh: Surat Ijin Membaca Puisi. Lengkap dengan tandatangan. Yang kurang hanya cap jempol saja.

1000 Miles to KUA

Setelah menggunakan KTP palsu selama enam tahun, hari ini saya memutuskan untuk membuat yang asli. Original. The real one. 

Ada pun kenapa akhirnya saya berubah pikiran, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena syarat dari KUA. Bagi mereka yang hendak menikah, KTP asli merupakan modal utama. Di samping rumah, mobil, karir dan uang tunai, tentunya. Masa, mengawali rumah tangga dengan kepalsuan?

Sebagai seorang calon suami dan calon ayah yang penuh dedikasi dan komitmen, mengurus KTP harus dilakukan sendiri, dong. Bersih dan lurus. Tidak bengkok disertai pelicin. Kalau mengurus KTP saja tidak becus, bagaimana dalam mengurusi badan yang gemuk?

Ups…

Surat Cinta #0016

Kepada Mrs. Boss
di hati

Mrs. Boss,
Badan saya meriang.

Empat Anak Cukup

“Kenapa pilih aku, Pak Andi?” kamu bertanya di atas loteng persembunyian seusai mengusir tuan kecoak yang sedang merayap di kain kerudungmu. Dan sebenarnya bukan beliau saja yang menguping pembicaraan alot kita. Para tetangga pun menempelkan telinga di dinding dan di balik kaca nako rumah mereka. Dasar tidak ada kerjaan. Padahal seharusnya mereka shalat taraweh berjamah di masjid sebelah. 

”Karena saya ingin punya duapuluh anak,” saya menjawab dengan sungguh-sungguh. 

Tidak Berjudul


ada masa-masa
di keluarga saya
di mana uang bukan masalah

kami memang bukan jutawan
bukan
tapi tidak pernah kebingungan
apa yang besok hendak dimakan

Bulan Madu

Pada awalnya, tidak ada rencana untuk melakukan perjalanan menuju Kampung Pacet, Bandung Coret. Sementara di mana itu letaknya Pacet, hanya segelintir orang yang tahu. Dan saya, a.k.a Andi Eriawan, termasuk dari si segelintir tersebut. Sungguh beruntung. Patut dibanggakan dan layak mendapatkan penghargaan.

Tak ada jalan tak macet menuju Pacet.

Demikian pepatah yang beredar. Dan sayalah yang menyebarkan pepatah tersebut. Bagaimana lagi, untuk sampai ke Pacet, kita harus melewati jalur-jalur yang perawan macet. Macet oleh motor, angkot, bus dan truk. Ada Jalan Buah Batu yang sulit ditembus atau Dayeuh Kolot yang berjalan kaki saja kita akan mengalami kesulitan. Belum lagi perbaikan jalan di kawasan Banjaran dan Bale Endah yang tak pernah usai. Jika perjalanan dilakukan pada hari libur, maka akan ada tambahan volume kendaraan luar biasa dari berbagai daerah menuju dan keluar kota Bandung. Belum lagi pesta khitanan atau perkawinan dari rumah-rumah di pinggir jalan akan semakin memeriahkan suasana.

Papaaaaa...!

“Kapan saya diajak bertemu dengan mama?”

Begitu saya bertanya di kampus dahulu saya pernah menuntut ilmu. Dan, ini adalah untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya mengajukan pertanyaan tersebut pada seorang perempuan. Perempuan yang baru saya kenal di pinggir jalan.

Soalnya, kalau di tengah jalan suka bikin macet.

Gotong Royong

Musim kering tiba bersama ibumu, Aisa. Berada di dekatnya, kita serasa mencium aroma gerimis sewaktu hujan turun merintik. Segar hijau daun serta mekar merah bunga turut terbawa. Kehadirannya bagaikan solusi bagi isyu pemanasan global di planet bumi. Kini, kita bisa berharap bahwa kiamat takkan terjadi pada tahun 2012 nanti.

Jadi, sayang, apa kabarmu?
Dari meja kerjanya yang sederhana, bapak ingin menyampaikan berita tentang perjalanan yang tengah dilaluinya. Yang kadang terjal, berkelok, lurus dan menurun serta bebas hambatan. Tentang warna-warni hidup yang ternyata tidak melulu hitam dan putih. Ada merah delima, pink tua, biru haru dan hijau botol. Tentang redup cahaya, temaram senja dan remang lampu kota. Tentang terik matari, singsing fajar serta pekat kabut pada pagi buta.

Liverfool




Mrs. Boss,
kita hidup berdua di desa, yuk
dan membangun alfamart di sana…

Begitu saya merayu. Agak sedikit lancang, mungkin. Dan tidak memandang tempat dan waktunya. Namun, kita berdua sama-sama tahu bahwa kota ini sudah terlalu hiruk dan pikuk. Terlalu padat oleh kendaraan. Nyaris tidak ada lagi yang tersisa bagi kita untuk sekedar berjalan-jalan menikmati udara sore sepulang kerja, mengantarkan si ucrit dan usro bersepeda di taman kelak, atau berkeliling kota di malam minggu sambil memandangi lampu-lampu.

Burungnya Mana?


Pada seekor burung hantu yang menabrak kaca jendela kantor, tidak akan pernah saya berkata, ”Kata saya juga, hati-hati. Itu teh kaca.”

Tidak mau saya mengucapkan sesuatu yang menyakiti. Tidak pernah. Pada siapapun. Bahkan padamu, hei burung hantu. Tapi, saya ingin bilang, ”Makanya, kalau terbang itu malam-malam.”

Madjalaysia


Begini mungkin rasanya berada di tengah-tengah padang savana Texas. Atau gurun-gurun Australia. Panas luar biasa. Musim kemarau turut membawa lanino, katanya.

Dengan kamera pinjaman, saya bersama beberapa teman berkunjung ke Majalaya. Bukan Malaysia. Ma-ja-lay-sya. Desa Cijagra, mungkin lebih tepat. Ini adalah kampung halaman calon istri dari teman saya yang akan dinikahinya pada November mendatang. Kami berencana mencari lokasi yang tepat untuk mengabadikan si kedua calon pengantin sebagai foto pre-wedding mereka.

”Tidak boleh ada adegan pelukan. Kalian belum resmi menikah.”

Aksi Keren


pukul 10 dini hari
kamar
masuk angin
perut kembung
terlalu banyak nikotin
dan kafein

Di luar sana, temperatur udara nyaris mendekati titik beku air. Saya baru saja kembali dari mengantarkan pulang seseorang. Seorang perempuan. Baru kenal di pinggir jalan.

Soalnya, kalau di tengah jalan, takut ketrabak.

Congo

Perjalanan kali ini adalah menuju Congo, sebuah tempat di pedalaman benua Afrika yang dipenuhi beragam flora dan fauna. Waktunya adalah hari minggu yang cerah seusai mengantar salah satu teman melamar pasangannya untuk diajak hidup bersama selama empat-limapuluh tahun ke depan.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, kendaraan yang kami gunakan adalah sebuah mobil dinas berpelat merah. Anggotanya pun tidak jauh beda, yaitu enam lelaki yang sedang giat-giatnya belajar fotografi. Hanya saja, ada satu tambahan lagi, yang di mana dalam hal ini adalah merupakan makhluk yang disebut sebagai: perempuan.

Sekali lagi: perempuan.

Harry Poter vs Godfather


“Menulis Harry Potter itu lebih sulit daripada menulis Godfather.”
Begitulah kira-kira pernyataan ayah saya di etalase toko miliknya sewaktu kami berdiskusi hebat tentang mana yang lebih sulit: menulis fiksi atau kisah nyata.

“Mana yang fiksi mana yang kisah nyata, Andiiiiii???”
Mungkin kamu akan bereaksi begitu. Mungkin.

Ya, ampun. Bagi keluarga kami, Michael Corleone itu nyata. Karena itulah kami dibesarkan dengan nilai-nilai omerta dan lirik lagu Brucia Laruna. Atau, jangan-jangan… kamu mengira sapu terbang itu memang ada? Ssstttt. Jangan jawab keras-keras. Malu sama tetangga.

Dua Helm Lebih Baik

“Ibu sudah siapkan nasi, ikan dan perkedel jagung untuk saya makan siang.”
Begitu jawab kamu sewaktu saya mengajak kita makan siang bersama.

Ow.
Si ibu supervisor ini sungguh seorang supervisor idaman. Baik nian sama kamu. Pasti beliau dulunya di waktu muda cantik sekali.

Iya, tidak nyambung.
Tapi, bagaimana lagi.
Saya bawa helm dua…
Nanti pulang bareng, ya?


Bandung, 27 Juli 2009

Mengaranglah Sepuasnya


tiba-tiba bertanya-tanya…
apakah pelajaran menggambar
waktu sekolah dulu itu
penting…

soalnya, kalau penting…
saya kok ngga pandai-pandai…

tapi yang pasti
pelajaran mengarang itu
jauh lebih penting

Selamat Menemukan


Ketika saya memulai kembali catatan ini, saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan bernilai satu juta dollar: untuk apa?

Karena biasanya, setiap tulisan selalu saya persembahkan untuk seseorang. Seseorang yang datang dan hinggap. Hinggap di kepala, lalu menclok di hati. Sementara, si seseorang ini sudah pergi jauh, berlayar menuju alamnya. 

Bukan.
Bukan alam ghaib.
Tapi alam habitat di mana ia bisa beradaptasi dengan baik.
Beranak pinak dan melahirkan anak-cucu kelak demi menyelamatkan populasi manusia.

Jadi, untuk apa?

Setelah lebih dari satu episode saya menghilang, ini… saya sudah kembali. Meski, tersesat pada sebuah dunia baru tak berpenghuni. Alamat baru yang tiada seorang tahu.

Iya, kenapa?

Karena, dalam hati kecil saya, saya ingin dicari.




Aihhhh…




Dan kamu menemukannya…








karena rindu, dunia terasa sepi
tapi karena dirindukan, dunia begitu berarti…

Bandung, 24 Juli 2009

Adieu......




"tak ada pesta yang tak usai..."
begitu, katanya





sudah lebih dari lima kali
saya dan blog ini
mengelilingi matahari







waktu untuk berbenah
dan pindah




sampai jumpa di kehidupan lain


eh


blog lain....






"The true goodbyes are the ones that never said or explained..."


(begitu, katanya)










Syuh... Syuh...

“Duh, saya sibuk banget! Ngga sempat makan. Jadinya kena maag…”
“Deadline sialan!”
“Hari kemarin, lembur. Besok lembur lagi!”
“Maaf, saya ngga bisa. Banyak kerjaan di kantor…”
“Ugh, boro-boro nonton. Bisa mandi aja sudah syukur….”

Ini mungkin yang dimaksud dengan istilah: dipoyok, dilebok. Artinya: ngeluh, tapi terus dilakukan. Atau, ada juga beberapa yang hanya ingin memberikan kesan kepada orang-orang bahwa,
“Saya ini sedang menjalani tangga kesuksesan. Tidak bisa diganggu. Lihat saja, saya sibuk sekali. Menyapa kamu saja saya ngga sempat. Syuh syuh…”

Dan sebaliknya, banyak sekali… banyak nian yang bertanya pada saya betapa saya ini tampak santai dan tidak ada kerjaan. Sempat-sempatnya menonton dvd, jalan-jalan melulu, karaoke, ongkang-ongkang kaki, kongkow di kafe…

Mual

kamu pasti tidak tahu
bahwa sesedih apa pun suasana hati
sekecewa apa pun
sakit apa pun juga


saya



saya masih bisa makan

dan menikmatinya


jika makanan itu pacar
dan makanan enak itu pacar yang menyenangkan
dan makanan mahal itu pacar yang matre

kami sudah puluhan tahun berpacaran

Satu Milyar Duapuluh Satu


Adalah waktu itu tengah malam di bukit Sukawana. Berempat kami membangun sebuah tenda dom, menghangatkan tubuh di sekeliling api unggun sambil memanggang sosis yang ditusuk ranting cemara. Di belakang kami, bayang gelap Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Di hadapan, terhampar kerlip lampu kota Bandung penuh warna dan warni. Ada biru laut. Ada kuning langsat. Ada pink tua. Juga ada hijau botol.

Botolnya botol saos.

Sementara langit, terlalu banyak yang dapat diceritakan tentangnya. Seperti bintik jerawat di wajah kamu, langit malam ditaburi semilyar duapuluh dua bintang. Baru usai saya hitung semua, satu persatu. Lalu kembali mengulangnya dari awal. Kali ini masing-masing bintang saya beri nama.

Dan bulan, di manakah engkau berada?

Monyet!

Luar negeri itu begitu memikat, ya. Menawan hati sebagian besar orang. Dari mulai ingin kuliah, bekerja, sampai dipinang bule dan diboyong mereka untuk tinggal di sana.

Di luar negeri itu, kotanya bagus. Bangunannya bagus-bagus. Jalannya rapi. Ah, tidak seperti Indonesia. Masyarakatnya pun tertib. Tidak ada yang buang sampah sembarangan. Dan teknologinya maju sekali. Pelayanan masyarakatnya pun luar biasa.

Begitulah cerita mereka sepulang dari luar negeri.

Lalu, bagaimana dengan saya?
Hmm.

Lontong!!




Ceritanya, minggu lalu kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita. Letaknya di enampuluh kilometer arah barat laut Rangkasbitung. Dan di mana itu Rangkasbitung, bukan tanggung jawab saya untuk memberi tahu. Dan benarkah ke arah barat laut? Dan benarkah enampuluh kilometer jauhnya? Jujur, saya sekedar sok tahu. Mungkin lebih, bisa kurang. Data tersebut disampaikan hanya cuma sekedar formalitas belaka sahaja, yang bila dihapus, tidak akan mengurangi maknanya barang sedikit pun.

Nama-Nama Bulan

dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji

sssttt…
bilang juga pada april yang malang
si cemberut maret
dan februari yang ruwet

Masih Ada, Om

Jika berbicara tentang pekerjaan kantor, saya seperti berhadapan dengan tembok, atau serasa laksana benteng catur yang meringkuk saja di kotak paling sudut. Inilah satu-satunya bagian dari dunia saya di mana saya sungguh merasa sepi berada di sana. Nyaris tak ada teman untuk saling bercerita, berdiskusi atau sekedar mengeluh akan soal yang begitu sulit dipecahkan sendiri.

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa perusahaan tempat saya bekerja kelak orang banyak ragu akan eksistensinya.

“Masih ada, gitu? Bukannya sudah bangkrut?”

Tidak pernah terpikir dahulu bahwa pihak bank akan ragu pada karyawan perusahaan tempat saya bekerja untuk memberikan pinjaman atau kredit cicilan.

“Ada pekerjaan lain?”

Mari

Mari kita cari ibu baru, Aisa. Jangan tanya alasannya. Anak kecil menurut saja sama orangtua. Percayakan semua pada bapak. Begini-begini, bapak sudah banyak pengalamannya.

Konon, di luar sana ada banyak, sayang. Macam-macam. Dari mulai ibu tiri, ibu guru, sampai ibu RI-1. Kamu pilih yang mana? Bilang saja. Biar nanti bapak yang menghadap salah satu dari mereka.

Atau kamu punya kriteria sendiri? Boleh saja. Ini negeri demokrasi. Begitu pula di rumah kita. Setiap penghuninya berhak untuk menyampaikan suara. Meski, tentu saja, bapak jualah yang menentukan di bagian akhirnya.

Terbaik

Ada sebuah kejadian lewat yang masih saja hinggap di benak saya. Menclok seperti burung kakak tua, tak pernah mau pergi. Agak sedikit mengganggu, sebenarnya. Membuat saya sering melamun sewaktu menyetrika kemeja kerja. Membuang sia-sia air dalam gayung sewaktu mandi. Salah menyuapi sendok nasi ke hidung sewaktu sarapan. Keliru turun dari bis menuju kantor. Sampai-sampai, kadang saya dibuat lupa pakai celana. Tak ada yang melihat, untungnya.

Hebat kan saya, masih saja merasa beruntung?

Kejadian itu adalah sebuah reuni kecil-kecilan kelas kami di masa SMA. Tepat tahun lalu. Salah satu dari mereka yang hadir adalah seorang mantan pacar. Perempuan, tentunya, sedang hamil tujuh bulan untuk yang kedua kali. Datang pula sang suami si pelaku penghamilan.

“Kenapa belum menikah juga?”

Pointilisme

“Di permukaan bulan sana,
saya tuliskan nama kita
dengan deretan abjad-abjadnya
yang tersusun rapi.
Semoga abadi.”

Demikian saya merayu. Kalimat terakhir saya bisikkan dengan lembut disertai ketukan yang terpadu.

Memandang tidak percaya, perempuan itu merogoh isi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah teropong bintang dan mengarahkannya pada bulan. Ia selidiki kata-kata saya dengan mengintip dari celah lensa, memastikan sendiri apakah saya sedang berbual atau sungguh-sungguh.
Tersenyum, dia, tidak lama kemudian.

Pas-Pasan

Malam minggu kemarin, bertemu saya dengan seorang kawan lama. Lama bersahabat, lama tidak jumpa. Seorang perempuan, penuh perhatian. Dan titel cantik saya sandangkan padanya dengan tulus dan tanpa udang.

Nyaris sudah sepuluh tahun sejak pertama kali kami berteman. Bukan rekor, sebenarnya. Tapi, hebatnya adalah, selama itu pula saya berhasil tidak pernah membuat beliau marah. Padahal, membuat perempuan marah adalah kehebatan saya.

Apalagi, saya adalah seorang lelaki yang tidak terbiasa berteman dengan perempuan cantik.

Ngga enak kalau cuma teman.

Verbodden, Dear


Bis Antapani-KPAD itu semirip dengan metro mini ibukota. Isinya penuh jejal dengan manusia di setiap pagi dan sorenya. Ada saya di situ, terselip diantara mereka. Jika saya sedang tidak beruntung, tidak ada satu pun bangku kosong yang available. Dan saya harus berdiri selama tiga puluh menit perjalanan. Maklum, si kondektur tidak menyediakan jasa reservation. Tapi jika saya sedang beruntung, saya bisa duduk nyaman di samping si karyawati bank sambil mendengarkan radio dan membaca novel yang saya bekal. Sesekali basa-basi tentang indahnya cuaca, kurs dollar, dan bertanya turun di mana, Mba.

Bis Antapani-KPAD itu serupa metro mini di Jakarta. Warnanya kombinasi hijau dan coklat tua. Ongkosnya tiga ribu dan tidak bisa diangsur. Harus kontan dan uangnya harus uang asli. Pasti, kondektur dan sopirnya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tegas tanpa bisa ditawar. Saya sungguh tidak cocok dengan pekerjaan mereka. Maklum, saya ini kebalikannya, mudah dibujuk dan dirayu. Satu kedip mata dari kamu saja bisa membuat saya luluh. Apalagi jika ditambah sedikit jentik jari dan seulas senyum.

Arab Gundul

Selama ini, saya paling sebal akan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan tema…. Before You Die. Seperti, The Places to See Before You Die, Books to Read Before You Die. Atau juga, Things to do Before You Die. Ditambah pula dengan jawaban-jawaban yang terdengar selalu common dan biasa. Sama sekali tidak luar biaba.

Tidak menunjukkan karakter, kalau teman saya bilang.

Tidak bersifat personal, kalau tetangga saya bilang. Misalnya, The Places to See Before You Die.

Pasti. Jawabannya tidak akan jauh dari Paris. Paris lagi, Paris lagi. Begitu inginnyakah melihat lokasi syuting Eiffel, I’m in Love itu? Standard sekali. Tidak kreatif. Membosankan.

Kenapa demikian? Karena, eh, karena… begini.

B 1195 NS

menunggu itu
diiringi kesal
gerutu
dan keluhan

menunggu itu
melirik jam tangan
dan berharap hari
cepat selesai

Aa Gymnastium

“Nasi goreng, mie instant, gorengan dan semua makanan berminyak harap dikurangi. Kalau bisa, sama sekali ditinggalkan. Usahakan pilih makanan yang dimasak secara rebus dan bakar.”

”Jeroan?”
”Jeroan, seperti usus dan babat, tidak boleh dimakan sama sekali.”
”Haram?”
”Bukan haram. Tapi tidak bergizi dan banyak mengandung racun bagi tubuh.”
”Racun? Seperti sianida?”
”…”
”Sate kambing?”
”Boleh, asal tidak pakai lemak.”
”Yess!! Salad?”
”Boleh.”
”Ayam bakar?”
”Boleh. Utamakan bagian dada. Dada itu lebih montok daripada paha mulus. Eh, maksud saya, dada lebih banyak mengandung protein daripada paha.”
“…”
“Dada ayam, bukan dada kamu.”

Selamat Hari Kartini



Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.

Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?

Would You Know My Name…

Sayang, apa kabar?
Sudah lama menunggu?
Maafkan bapak atas surat yang demikian jarang. Ini bukan karena bapak terlalu sibuk dengan pekerjaan, atau sombong akibat kebanyakan uang. Dan jangan sekali-kali menuduh bapak tengah mencari ibu baru buatmu.

Aih.
Simpan segera curiga itu, Aisa. Dan mari kita berbincang sejenak tentang apa saja yang kamu suka. Tentang tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentang orang-orang yang dirindukan. Janji-janji yang belum terbayar. Mimpi-mimpi yang belum kesampaian.

Tungguuuu!


























kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang

...

pernah pada suatu pagi
seusai kami sembahyang subuh
ibu memanggil saya masuk ke dalam kamarnya
dan berbisik

“Lihat ini.”

selembar cek atas pembelian mobil pertama keluarga kami
saya baru kelas empat sd waktu itu

Maafkan Kami, DR. Herry Suhardiyanto…

Kembali ke Buitenzorg tidak seperti kembali ke kotamu. Yang dicari tidak ada di sini. Yang dibayang-bayangkan tidak juga muncul. Yang diharapkan, mengkhianati. Yang dicemaskan, terjadi.

“Di Rindu Alam puncak, matahari terbitnya keren, Bung!! Dari parkiran mobilnya, kita bisa lihat matahari muncul dari balik gunung.”

Begitu yang dibilang teman saya, seorang dosen harapan masa depan. Seorang PNS Golongan IIIA, tengah mengambil S2. Jujur dia punya sikap. Manis tutur katanya. Di pundaknya kelak, bersandar nasib pendidikan negeri kita.

Buffalo vs Loch Ness

Rupa-rupanya, keinginan untuk melakukan perjalanan sedang menggebu-gebu di hati saya. Seperti baru lepas dari penjara setelah dikurung sekian lama. Atau karena ingin berlari dari sesuatu? Mencari penghiburan?

Masih teka-teki silang.

Setelah Garut, Buitenzorg, Sumedang Tandang, saya kembali melakukan perjalanan ke Garut Kota Intan. Beberapa teman ingin melihat hijaunya sawah dan mengabadikannya dengan kamera. Padahal, itu sungguh dusta. Sesungguhnya adalah ingin mencicipi sambal oncom buatan nenek saya dan makan baso kampung asli sana.

PLN Brengsex!

Perjalanan kali ini adalah menuju Sumedang Tandang. Ada sate kambing dan gurame bakar yang hendak kami buru di sana. Konon, itu adalah sate kambing terbaik yang pernah ada di muka bumi. Laku nian oleh para PNS pada setiap jam makan siang. Penuh selalu. Pemiliknya saja sampai mampu membeli sebuah pom bensin.

“Lemaknya menetes, Ndi. Dan ngga bikin kepala pusing.”

Surat Cinta #747

Tidak mau saya mengawali surat ini dengan sapaan Apa Kabar? Benci sekali dengan kalimat yang terlalu sering diucapkan banyak orang itu. Ditambah dengan jawaban yang mudah tertebak sebelumnya. Artis favorit kita Pinkan Mambo juga sering melantunkan itu, bukan?

Saya kasih tahu, ya. Di sini sedang musim hujan. Banjir selalu mengancam setiap saat. Atap rumah bocor dan tetesan air mengukir banyak jejak di dinding kamar. Untungnya, tak ada korban.

Lima Saja Cukup

“Jadi laki-laki itu harus begini, begitu. Jangan bla bla bla.”

Kira-kira, demikianlah yang diucapkan seorang kawan perempuan feminis pada saya di malam minggu lalu sewaktu kami menunggu antrean karaoke. Disampaikannya kalimat tersebut dengan iringan kekesalan.

Wajar, beliau sedang datang bulan.

Tapi, bukan itu yang terpenting. Juga tidak penting apakah sewaktu menyanyi suara saya bagus atau sebaliknya. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah apa yang dia bilang ternyata sama dengan kebanyakan orang. Semua bilang begitu. Dan semua menyudutkan saya. Dan karena saya tidak suka membela diri, maka saya iya-iya saja sambil menganggukkan kepala.

Mic and Me

Pertanyaan: Perempuan seperti apa yang paling sulit ditemukan di zaman ini?
Jawaban: Perempuan yang tidak tertarik pada ponsel dan segala aktivitas yang berhubungan dengannya.

Sungguh jawaban yang sangat mencengangkan saya. Terhenyak saya sesaat. Diam sejenak untuk mengatur nafas. Dalam hati,
Women…”

Memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan benang basah. Memang tidak nyambung. Jangan protes. Saya sedang kesal hari ini. Kalau sedang kesal, terserah saya mau menganalogikan segala sesuatu dengan apa. Sekiranya saya analogikan bahwa memisahkan perempuan dengan ponsel sama saja dengan memisahkan H2 dan O dari air, bisa-bisa saja, bukan?

Satu kali lagi, ah.

Maju Produk Cibaduyut!

Kata orang bijak, tidak boleh kita menghitung-hitung kekayaan. Apalagi, kekayaan tetangga. Tapi malam ini tidak ada yang bisa saya lakukan mengingat mata terlalu segar untuk dipejamkan. Jadilah saya mulai mencatat inventaris barang yang berhasil saya beli selama ini.

#1 TV Asatron 14”.
Dibuat di negeri Cina, lalu dikirim dengan kapal dagang. Harga 500 ribuan. Tidak saya tawar. Sudah menjadi kebiasaan saya tidak suka tawar-menawar.

“Tabungnya LG, Mas,” begitu yang dibilang si penjual di bilangan pusat elektronik Jalan ABC tiga tahun lalu. Namun, bukan karena alasan tersebut saya beli itu tivi. Tapi lebih karena terjangkau harganya.

Kondisi si tivi saat ini cukup memprihatikan. Selain terbungkus oleh lapisan debu tebal, remote-nya pun sudah pensiun entah sejak kapan. Tombol-tombolnya nyaris tanpa guna. Kalau saya tekan channel 5, yang muncul channel 10. Jika saya naikkan volume, yang terjadi adalah bergantinya mode, dari TV ke mode AV.
Tadinya mau saya berikan ke adik saya, tapi saya tidak tega. Memberi barang kan harus barang yang kita juga senang memakainya.

Mau saya buang, nanti dikiranya saya orang kaya. Nanti kamu ingin saya nikahi segera.

Monyet Berbulu Domba

“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Einstein vs Bohr

Beberapa hari yang lalu, di tengah jam makan siang pada hari yang cerah tapi banyak awan mengancam, saya terlibat dalam sebuah pembicaraan serius dengan seorang teman kantor. Teramat serius. Pembicaraan paling serius yang pernah kami alami sejak kami saling mengenal. Teman yang saya maksud ini kebetulan adalah seorang perempuan dan junior saya di kampus dahulu. Bukan kebetulan, sebenarnya. Karena Tuhan tidak sedang bermain dadu. Begitu kata Einstein. Atau kata Bohr, si penemu model atom itu? Ah, tidak penting.

Penting, sih. Karena itu adalah filosofi hidup yang juga penting.

Tapi terlepas dari Einstein ataupun Bohr, saya cukup yakin bahwa isi pembicaraan yang saya maksud tidak kalah pentingnya. Bahkan, cukup penting untuk disimak dan dihayati. Sekiranya pekerjaan sedang menumpuk pun, sudah sepatutnya kamu diam sejenak dan memperhatikan apa yang hendak saya paparkan.

Begini.

Buitenzorg

Aisa,
Ada yang membuat bapak tidak bisa tidur malam ini. Di luar sana, temperatur udara mendekati titik terendahnya. Juga gulita. Bulan sama sekali tidak terlihat, padahal ini malam purnama. Awan telah menelannya bulat-bulat, seperti yang dilakukannya pada matahari akhir-akhir ini. Satu-satunya sumber cahaya adalah sinar mata ibumu di kejauhan. Dan itu pun mulai meredup secara perlahan.

Kampung Sexy Dancers

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Hidden File


halo
hi
how are you apa kabar?

biasanya,
saya mudah menemukanmu
di sudut terminal
di pos polisi
di balik teralis penjara
di kolong jembatan
….
di rumah sakit bersalin
dan dukun pembunuh janin…

adakah sesuatu yang terjadi?



“Love and a cough cannot be hid.”
[George Herbert]

Bandung, 04 Februari 2009

Ruang Rindu





















karena rindu
dunia terasa sepi
tapi karena dirindukan
dunia begitu berarti


Prolog

Kisah cinta biasanya diakhiri dengan pernikahan. Namun, bagiku sebaliknya. Pernikahan justru menjadi awal kisah cinta kami. Hanya saja aku harus merelakan sebagian telinga kiriku menjadi sumbing, sementara istriku melarang aku memelihara rambut panjang untuk menyembunyikan cacat itu. Tidak pantas seorang pimpinan sebuah biro arsitek berambut gondrong, katanya.  

Love for Show




















kalau jodoh takkan ke mana
kalau bodoh takkan ke mana-mana




“Ruski, kamu cinta aku?” Ika bertanya tiba-tiba dengan nada lirih dan pandangan yang tak mampu Ruski artikan. Seakan penuh harap, sedih atau cemas yang berlebih.

Pelan, ia berjalan mundur, melepaskan topi wisuda. ”Pertanyaan yang sangat bodoh dari kamu. Tentu saja, untuk saat ini … iya,” jawab Ruski tanpa senyum.

Entah kenapa, perempuan itu mulai terisak. “Seberapa besar?”

Ruski yang semakin bingung terus berjalan mundur. “Cukup besar untuk jadi jerawat kalau kamu tolak.” 

Perempuan itu masih menatapnya dengan sorot mata yang tak biasa. “Kalau aku … menikah dengan orang lain?”

always, Laila




















Seseorang di seberang pulau nun jauh di sana berjarak milyaran langkah pernah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab.

“Kamu lebih tahu tentang perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Begitu katanya seusai ia membaca always, Laila. 

Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca maksud si penuduh. Tengah mengejekkah atau sedang jujur memberi apresiasi. Saya lebih merasa tersinggung daripada terpuji. Maklum, waktu itu saya belum tahu siapa itu si Freud,

Seandainya saja si penuduh membaca lagi kisah ini lebih teliti tanpa melewatkan satu pun huruf titik koma spasi, beliau pasti akan menarik kembali kata-katanya dan menggantinya dengan kalimat: 

“Kamu lebih tahu tentang perempuan dan juga laki-laki daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Maklum, dia sendiri tidak tahu siapa itu si Freud.

Don't Ask Me Why

Nyaris setiap orang yang mengaku perhatian pada saya selalu bilang begini,

“Andi, tolong ya, itu janggutnya dipotong.”
“Baiklah akan saya tolong. Janggut siapa yang harus saya potong?”

Disebabkan saya adalah seorang laki-laki yang tidak suka berbuat sesuatu hanya demi menyenangkan orang lain, maka janggut saya pun selamat selama ini. Panjang dan subur. Lebat dan rimbun. Meski, dibandingkan orang Arab, janganlah dibandingkan. Bandingkanlah dengan Ahmad Dani.

“Janggut ini tempat bergelantungnya para malaikat,” kata saya membela diri.

“Iya. Malaikat pencabut nyawa, pencatat amal buruk, peniup sangsakala hari kiamat.”

Perata Kursi


susu hangat di teras rumah
sehabis pulang kerja
di sore hari
tertawakan tetangga sebelah
pulang dengan celana basah

"kehujanan?"
terlontar pertanyaan basa basi

"iya. lebih baik begini daripada lembur selalu."
dijawab dengan sungguh-sungguh. 
"bisa-bisa, tua di kantor. pantat bisa rata oleh kursi."

ah...
titip salam untuk para pemakan matahari

Bandung, 29 Januari 2009

Ke Kalor Ke Kidul


Sudah berapa lama kita tidak saling menyapa?
Huss, tidak usah dihitung.
Akan habis jari tangan plus kaki kamu, nanti.
Mungkin akan butuh sempoa.
Dalam hitung-menghitung,
kamu memang bukan bagiannya.

Karena itu, kamu diam saja, ya.
Kali ini biarkan saya bercerita.
Duduk manis sana.
Hey, jangan jauh-jauh.
Saya ngga mau kalau mesti teriak-teriak, nantinya.

Gong Xi Fat Choi

Sebagai pemerhati kebudayaan Tiongkok dan Jurus Kungfu, ijinkanlah saya menyapa kamu dari seberang lautan. Di sana kamu pasti sedang menikmati kue keranjang dan menebak-nebak isi angpao.

Gong Xi Fat Choi
Selamat Tahun Baru Imlek

Saya juga ingin mengucapkan salam kepada mereka, orang-orang yang sudah menginspirasi saya.

#1 Pendekar Pemanah Rajawali Kwe Cheng
Meski IQ di bawah rata-rata, namun sifat ksatriamu telah menginspirasi saya sejak saya remaja. Dari dirimulah saya tahu bagaimana seorang laki-laki itu harus bersikap. Kesetiaan pada negeri dan apa yang diyakini.

Kampung Halaman Aisa

Aisa,
Pernahkah kamu melihat bintang jatuh?

Tak usah dijawab, sayang.
Karena bapak tahu jawabannya adalah pernah.
Pasti pernah.

Dan sandainya ternyata barusan bapak sok tahu,
maafkan, ya.
Maukah kamu memaafkan ayahmu satu-satunya ini?
Yang tak ada duanya itu…
Yang kasihnya padamu melimpah seperti banjir itu…
Yang sayangnya padamu tak dapat dikalkulasi itu…
Janganlah karena bapak sudah sok tahu,
lantas hubungan kita berakhir sampai di sini.

Surat Cinta #1001


Di tengah-tengah hidup dan matinya sinyal 3G, ijinkanlah saya, artis gadungan ini, menyapa kamu dari  kampung halamannya. Yang panas, yang gerah, yang semrawut disertai pembangunan yang terlambat duapuluh tahun itu.

Saya ingin menyapa kamu lewat tukang baso yang semangkuknya hanya tujuh ribu. Rupiah mata uangnya. Baso bihun bening tanpa selederi, menunya. Dan teh botol sosro penutupnya.

Saya ingin menyapa kamu lewat penjual nasi uduk plus kerupuk emping selebar piring. Ditambah tempe bacem dan gulai. Tak lengkap jika tidak ditaburi irisan bawang.

Selamat Pagi


pagi ini saya ingin melongok ke luar jendela
dan menyapa selamat pagi

apa daya, hujan gerimis di luar sana

Stupid Things

Sebagai pemerhati perilaku manusia, saya begitu banyak menemukan hal-hal konyol dari mereka. Sebagian terlalu sensitif untuk dibicarakan. Sebagian lagi layak untuk saya tertawakan.

#1 Jodoh
Bagi mereka yang bukan atheis, jodoh itu adalah created by God. Jodoh dipercaya sebagai aturan-Nya. Tak ada itu manusia campur tangan mengurusi. Katanya.

Namun, ada dua hal yang sangat konyol di sini. Pertama, jika sepasang manusia baru saja menikah, statement bahwa mereka berjodoh seringkali terburu-buru disandangkan. Padahal kan perjalanan justru baru dimulai. Kedua, jika berhubungan dengan jodoh, kebanyakan orang pasif sekali sifatnya. Terutama pada mereka yang berjenis kelamin perempuan. Lebih banyak menunggu. Berbeda sekali jika sedang mencari rizki. Banting tulang, siang malam plus begadang. Begitu juga yang berhubungan dengan mati. Mati-matian mereka menghindari.

Turun

Sejak hari Jumat kemarin, saya resmi pindah ruangan kerja. Sebuah projek lama yang sudah bertahun-tahun tidak juga tuntas membutuhkan tenaga saya. Juga pikiran, tentunya. Sekiranya kelak butuh dana pun, sudah saya siapkan beberapa juta. Hanya doa yang mungkin sulit saya berikan. Doa kan harus tulus. Tanpa pamrih. Tanpa embel-embel. Hanya mereka yang saya cinta saja yang tidak pernah lupa saya doakan.
Saya pindah meja, dari lantai tiga turun ke lantai satu. Semoga, ini bukan tanda-tanda menurunnya karir saya. Tapi, memangnya, sejak kapan saya mengejar karir, bukan?

Saya cuma berencana bahwa dalam lima tahun bekerja, saya sudah bisa menjabat sebagai manajer. Dua tahun kemudian, Kepala Divisi. Lalu di usia tigapuluh lima, menjadi Direktur Utama termuda dalam sejarah perusahaan.

Tapi, kemudian apa?

Ya, Benar


saya kebingungan harus memulai dari mana

dari ucapan selamat tahun baru yang sudah lewat
atau ulang tahun yang tak kunjung datang...

belum pernah seberat ini untuk sekedar bertanya
sarapan apa pagi ini
atau film apa yang hendak kamu tonton di malam minggu

Rich Dad, Poor Dad

Teruntuk Aisa
yang kecantikannya
mampu mengganggu
mimpi raja-raja


Di luar sana, hujan begitu deras, Aisa.
Membasahi semua yang terkena curahnya.
Termasuk jemuran bapak.
Tiga kemeja dan dua celana plus dalamannya.
Mungkin besok masih bapak kenakan baju yang sama dengan hari ini.
Tapi bukan itu yang hendak bapak ceritakan.
Tak mau bapak membuatmu malu karena mengetahui ayahnya tidak rajin mencuci pakaiannya sendiri.

Orang-Orang Jalan Bali

“Mana yang kamu pilih, Ndi, menjadi Jutawan Dot Com atau Jutawan Dot Net?”



Itu adalah salah satu dari sekian juta pertanyaan tidak penting yang diajukan teman-teman saya selama ini. Dan setiap kali kami berkumpul, memang tidak ada hal yang kami anggap penting. Tidak satu pun. Joker tertinggal tigabelas tahun dari kami dengan Why So Serious-nya.

”Bagaimana kalau di kantor istri saya?”
Zoel mengajukan usul tempat untuk kami mijit yang penting-penting alias miting. Markas di jalan Bali sudah digusur. Kami butuh sebuah tempat baru dalam rangka menjadi Jutawan Dot Co Dot ID.

Jalan Bali

mentari bersinar tanpa pamrih
dia sudah puas melihat bunga yang bersemi
ya, aku juga tidak apa-apa
aku hanya ingin tahu, apa dia baik-baik saja…
[Khu Lung - Ho Ce Wen, Impecable Twins]



Ada sebuah tempat di mana saya merasa begitu terikat. Tigabelas tahun sudah saya berada di sana. Udara terbaik yang saya hisap ada di sana. Pohon-pohon tertinggi dan terindang yang bisa saya temukan di kota. Jalan-jalan paling teduh. Tahun 1995, saya masuk SMA di jalan Bali. Dan hingga hari ini, saya masih di jalan itu. Teman-teman terlucu saya ada di sana. Inilah tempat kami berkumpul di waktu sempit dan senggang.

Entah siapa yang pertama kali memulai, di tahun 2004 muncul sebuah ide untuk memulai usaha bersama. Jalan Bali no. 1 menjadi markasnya. Dan dua tahun kemudian, saya terpaksa menjadi salah satu tuan rumah, menggantikan yang lama. Bagaimana lagi, jika tempat ini dimusnahkan, di mana tempat kami berkumpul nanti?