Farewell, Profesor...

Memasuki gedung berlantai empat berwarna cokelat membosankan itu, Ruski menarik napas dalam-dalam. Ia mantapkan langkah kakinya saat menaiki setiap anak tangga. Napasnya tersengal-sengal di anak tangga terakhir.

“Selamat pagi, Pak Diran,” sapa Ruski penuh formalitas ketika memasuki sebuah ruangan.

Profesor Diran sedang duduk menyandar pada sebuah kursi berlengan. Kacamatanya tebal dengan rambut tipis yang hampir seluruhnya berwarna putih. Pak tua itu sudah menjadi dosen sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. “Kamu terlambat sepuluh menit,” sambutnya dingin.

“Maaf, Pak.” Tanpa dipersilakan, Ruski duduk di hadapan dosen itu.

“Kamu tahu, sudah berapa lama kamu tidak datang kemari? Lima bulan,” kata Profesor Diran tanpa menunggu jawaban. “Sebelum itu, enam bulan. Juga dengan dua pertemuan kita sebelumnya, kamu sempat pula menghilang lama. Bila dijumlahkan, kamu sudah menghabiskan waktu hampir tiga tahun untuk mengerjakan skripsi ini … tanpa perkembangan berarti.”

Ruski hanya menundukkan kepala tanpa benar-benar memperhatikan. Ia sudah hafal benar semua kalimat pembuka itu yang didengarnya dari Profesor Diran setiap kali ia datang untuk asistensi tugas akhir.

“Bla … bla … bla …”

Tanpa sengaja, terlihat olehnya sepasang kaki muncul di kolong meja. Pak tua itu tidak mengenakan sepatu; Ruski hampir saja kehilangan kontrol wajahnya untuk menahan tawa.