Farewell, Profesor...

Memasuki gedung berlantai empat berwarna cokelat membosankan itu, Ruski menarik napas dalam-dalam. Ia mantapkan langkah kakinya saat menaiki setiap anak tangga. Napasnya tersengal-sengal di anak tangga terakhir.

“Selamat pagi, Pak Diran,” sapa Ruski penuh formalitas ketika memasuki sebuah ruangan.

Profesor Diran sedang duduk menyandar pada sebuah kursi berlengan. Kacamatanya tebal dengan rambut tipis yang hampir seluruhnya berwarna putih. Pak tua itu sudah menjadi dosen sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. “Kamu terlambat sepuluh menit,” sambutnya dingin.

“Maaf, Pak.” Tanpa dipersilakan, Ruski duduk di hadapan dosen itu.

“Kamu tahu, sudah berapa lama kamu tidak datang kemari? Lima bulan,” kata Profesor Diran tanpa menunggu jawaban. “Sebelum itu, enam bulan. Juga dengan dua pertemuan kita sebelumnya, kamu sempat pula menghilang lama. Bila dijumlahkan, kamu sudah menghabiskan waktu hampir tiga tahun untuk mengerjakan skripsi ini … tanpa perkembangan berarti.”

Ruski hanya menundukkan kepala tanpa benar-benar memperhatikan. Ia sudah hafal benar semua kalimat pembuka itu yang didengarnya dari Profesor Diran setiap kali ia datang untuk asistensi tugas akhir.

“Bla … bla … bla …”

Tanpa sengaja, terlihat olehnya sepasang kaki muncul di kolong meja. Pak tua itu tidak mengenakan sepatu; Ruski hampir saja kehilangan kontrol wajahnya untuk menahan tawa.



“Jadi, kamu mengerti?”
“Iya, Pak.”
“Apa yang kamu mengerti?”
“Saya harus segera menyelesaikan skripsi ini dalam waktu dua bulan. Selain itu, karena Bapak mau pensi…” Urat leher Ruski tiba-tiba mengencang. “Apa??! Bapak mau pensiun??”

Profesor Diran mengangguk tanpa senyum.

“Kapan?”

“Dua bulan lagi,” jawab Profesor Diran tenang.

“Kenapa?”

Profesor Diran menunjuk kepalanya sendiri. “Kamu tidak melihat jumlah dan warna rambut saya?”

Ruski mulai panik. “Tapi, bagaimana dengan nasib skripsi saya, Pak? Bapak jangan egois.”

Profesor Diran tersenyum lebar. “Justru itu ... saya jadi penasaran sekarang, apakah dalam dua bulan ini kamu akan diwisuda dan saya pensiun dengan tenang dan menghabiskan waktu dengan menanam bonsai? Atau, kamu akan di-dropout dan saya tetap menanam bonsai dengan tenang?”

Ruski melongo. “Kenapa … saya akan di-dropout dalam dua bulan?”

Profesor Diran menyandarkan tubuhnya pada kursi, tersenyum angkuh. “Karena tidak pernah ada mahasiswa kuliah hingga semester lima belas dalam sejarah institusi ini ....,” katanya dengan suara tegas, dalam dan tanpa bisa ditawar.

“…”

“Kecuali …,” Profesor Diran terbatuk, “pada jaman saya kuliah dulu.”

(taken from Love for Show)




“Tugas seorang guru itu tidak hanya mengajar para muridnya saja. Tugas seorang guru pada hakikatnya adalah membuat para muridnya mengetahui secara persis apa kekuatan dan kelemahan dirinya, dan bisa bersikap dengan tepat atas kekuatan dan kelemahannya tersebut. Seorang guru yang membuat muridnya tidak tahu apa kekuatan dan kelemahannya, bisa dikatakan sebagai pendidik yang gagal…”
[Profesor Oetarjo Diran, Founding Father of Aerospace Technology in Indonesia]


No comments: