Empat Anak Cukup

“Kenapa pilih aku, Pak Andi?” kamu bertanya di atas loteng persembunyian seusai mengusir tuan kecoak yang sedang merayap di kain kerudungmu. Dan sebenarnya bukan beliau saja yang menguping pembicaraan alot kita. Para tetangga pun menempelkan telinga di dinding dan di balik kaca nako rumah mereka. Dasar tidak ada kerjaan. Padahal seharusnya mereka shalat taraweh berjamah di masjid sebelah. 

”Karena saya ingin punya duapuluh anak,” saya menjawab dengan sungguh-sungguh. 

Tidak Berjudul


ada masa-masa
di keluarga saya
di mana uang bukan masalah

kami memang bukan jutawan
bukan
tapi tidak pernah kebingungan
apa yang besok hendak dimakan

Bulan Madu

Pada awalnya, tidak ada rencana untuk melakukan perjalanan menuju Kampung Pacet, Bandung Coret. Sementara di mana itu letaknya Pacet, hanya segelintir orang yang tahu. Dan saya, a.k.a Andi Eriawan, termasuk dari si segelintir tersebut. Sungguh beruntung. Patut dibanggakan dan layak mendapatkan penghargaan.

Tak ada jalan tak macet menuju Pacet.

Demikian pepatah yang beredar. Dan sayalah yang menyebarkan pepatah tersebut. Bagaimana lagi, untuk sampai ke Pacet, kita harus melewati jalur-jalur yang perawan macet. Macet oleh motor, angkot, bus dan truk. Ada Jalan Buah Batu yang sulit ditembus atau Dayeuh Kolot yang berjalan kaki saja kita akan mengalami kesulitan. Belum lagi perbaikan jalan di kawasan Banjaran dan Bale Endah yang tak pernah usai. Jika perjalanan dilakukan pada hari libur, maka akan ada tambahan volume kendaraan luar biasa dari berbagai daerah menuju dan keluar kota Bandung. Belum lagi pesta khitanan atau perkawinan dari rumah-rumah di pinggir jalan akan semakin memeriahkan suasana.

Papaaaaa...!

“Kapan saya diajak bertemu dengan mama?”

Begitu saya bertanya di kampus dahulu saya pernah menuntut ilmu. Dan, ini adalah untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya mengajukan pertanyaan tersebut pada seorang perempuan. Perempuan yang baru saya kenal di pinggir jalan.

Soalnya, kalau di tengah jalan suka bikin macet.

Gotong Royong

Musim kering tiba bersama ibumu, Aisa. Berada di dekatnya, kita serasa mencium aroma gerimis sewaktu hujan turun merintik. Segar hijau daun serta mekar merah bunga turut terbawa. Kehadirannya bagaikan solusi bagi isyu pemanasan global di planet bumi. Kini, kita bisa berharap bahwa kiamat takkan terjadi pada tahun 2012 nanti.

Jadi, sayang, apa kabarmu?
Dari meja kerjanya yang sederhana, bapak ingin menyampaikan berita tentang perjalanan yang tengah dilaluinya. Yang kadang terjal, berkelok, lurus dan menurun serta bebas hambatan. Tentang warna-warni hidup yang ternyata tidak melulu hitam dan putih. Ada merah delima, pink tua, biru haru dan hijau botol. Tentang redup cahaya, temaram senja dan remang lampu kota. Tentang terik matari, singsing fajar serta pekat kabut pada pagi buta.

Liverfool




Mrs. Boss,
kita hidup berdua di desa, yuk
dan membangun alfamart di sana…

Begitu saya merayu. Agak sedikit lancang, mungkin. Dan tidak memandang tempat dan waktunya. Namun, kita berdua sama-sama tahu bahwa kota ini sudah terlalu hiruk dan pikuk. Terlalu padat oleh kendaraan. Nyaris tidak ada lagi yang tersisa bagi kita untuk sekedar berjalan-jalan menikmati udara sore sepulang kerja, mengantarkan si ucrit dan usro bersepeda di taman kelak, atau berkeliling kota di malam minggu sambil memandangi lampu-lampu.

Burungnya Mana?


Pada seekor burung hantu yang menabrak kaca jendela kantor, tidak akan pernah saya berkata, ”Kata saya juga, hati-hati. Itu teh kaca.”

Tidak mau saya mengucapkan sesuatu yang menyakiti. Tidak pernah. Pada siapapun. Bahkan padamu, hei burung hantu. Tapi, saya ingin bilang, ”Makanya, kalau terbang itu malam-malam.”

Madjalaysia


Begini mungkin rasanya berada di tengah-tengah padang savana Texas. Atau gurun-gurun Australia. Panas luar biasa. Musim kemarau turut membawa lanino, katanya.

Dengan kamera pinjaman, saya bersama beberapa teman berkunjung ke Majalaya. Bukan Malaysia. Ma-ja-lay-sya. Desa Cijagra, mungkin lebih tepat. Ini adalah kampung halaman calon istri dari teman saya yang akan dinikahinya pada November mendatang. Kami berencana mencari lokasi yang tepat untuk mengabadikan si kedua calon pengantin sebagai foto pre-wedding mereka.

”Tidak boleh ada adegan pelukan. Kalian belum resmi menikah.”