Aksi Keren


pukul 10 dini hari
kamar
masuk angin
perut kembung
terlalu banyak nikotin
dan kafein

Di luar sana, temperatur udara nyaris mendekati titik beku air. Saya baru saja kembali dari mengantarkan pulang seseorang. Seorang perempuan. Baru kenal di pinggir jalan.

Soalnya, kalau di tengah jalan, takut ketrabak.

Congo

Perjalanan kali ini adalah menuju Congo, sebuah tempat di pedalaman benua Afrika yang dipenuhi beragam flora dan fauna. Waktunya adalah hari minggu yang cerah seusai mengantar salah satu teman melamar pasangannya untuk diajak hidup bersama selama empat-limapuluh tahun ke depan.

Sama seperti sebelum-sebelumnya, kendaraan yang kami gunakan adalah sebuah mobil dinas berpelat merah. Anggotanya pun tidak jauh beda, yaitu enam lelaki yang sedang giat-giatnya belajar fotografi. Hanya saja, ada satu tambahan lagi, yang di mana dalam hal ini adalah merupakan makhluk yang disebut sebagai: perempuan.

Sekali lagi: perempuan.

Harry Poter vs Godfather


“Menulis Harry Potter itu lebih sulit daripada menulis Godfather.”
Begitulah kira-kira pernyataan ayah saya di etalase toko miliknya sewaktu kami berdiskusi hebat tentang mana yang lebih sulit: menulis fiksi atau kisah nyata.

“Mana yang fiksi mana yang kisah nyata, Andiiiiii???”
Mungkin kamu akan bereaksi begitu. Mungkin.

Ya, ampun. Bagi keluarga kami, Michael Corleone itu nyata. Karena itulah kami dibesarkan dengan nilai-nilai omerta dan lirik lagu Brucia Laruna. Atau, jangan-jangan… kamu mengira sapu terbang itu memang ada? Ssstttt. Jangan jawab keras-keras. Malu sama tetangga.

Dua Helm Lebih Baik

“Ibu sudah siapkan nasi, ikan dan perkedel jagung untuk saya makan siang.”
Begitu jawab kamu sewaktu saya mengajak kita makan siang bersama.

Ow.
Si ibu supervisor ini sungguh seorang supervisor idaman. Baik nian sama kamu. Pasti beliau dulunya di waktu muda cantik sekali.

Iya, tidak nyambung.
Tapi, bagaimana lagi.
Saya bawa helm dua…
Nanti pulang bareng, ya?


Bandung, 27 Juli 2009

Mengaranglah Sepuasnya


tiba-tiba bertanya-tanya…
apakah pelajaran menggambar
waktu sekolah dulu itu
penting…

soalnya, kalau penting…
saya kok ngga pandai-pandai…

tapi yang pasti
pelajaran mengarang itu
jauh lebih penting

Selamat Menemukan


Ketika saya memulai kembali catatan ini, saya dihadapkan pada sebuah pertanyaan bernilai satu juta dollar: untuk apa?

Karena biasanya, setiap tulisan selalu saya persembahkan untuk seseorang. Seseorang yang datang dan hinggap. Hinggap di kepala, lalu menclok di hati. Sementara, si seseorang ini sudah pergi jauh, berlayar menuju alamnya. 

Bukan.
Bukan alam ghaib.
Tapi alam habitat di mana ia bisa beradaptasi dengan baik.
Beranak pinak dan melahirkan anak-cucu kelak demi menyelamatkan populasi manusia.

Jadi, untuk apa?

Setelah lebih dari satu episode saya menghilang, ini… saya sudah kembali. Meski, tersesat pada sebuah dunia baru tak berpenghuni. Alamat baru yang tiada seorang tahu.

Iya, kenapa?

Karena, dalam hati kecil saya, saya ingin dicari.




Aihhhh…




Dan kamu menemukannya…








karena rindu, dunia terasa sepi
tapi karena dirindukan, dunia begitu berarti…

Bandung, 24 Juli 2009

Adieu......




"tak ada pesta yang tak usai..."
begitu, katanya





sudah lebih dari lima kali
saya dan blog ini
mengelilingi matahari







waktu untuk berbenah
dan pindah




sampai jumpa di kehidupan lain


eh


blog lain....






"The true goodbyes are the ones that never said or explained..."


(begitu, katanya)