Maju Produk Cibaduyut!

Kata orang bijak, tidak boleh kita menghitung-hitung kekayaan. Apalagi, kekayaan tetangga. Tapi malam ini tidak ada yang bisa saya lakukan mengingat mata terlalu segar untuk dipejamkan. Jadilah saya mulai mencatat inventaris barang yang berhasil saya beli selama ini.

#1 TV Asatron 14”.
Dibuat di negeri Cina, lalu dikirim dengan kapal dagang. Harga 500 ribuan. Tidak saya tawar. Sudah menjadi kebiasaan saya tidak suka tawar-menawar.

“Tabungnya LG, Mas,” begitu yang dibilang si penjual di bilangan pusat elektronik Jalan ABC tiga tahun lalu. Namun, bukan karena alasan tersebut saya beli itu tivi. Tapi lebih karena terjangkau harganya.

Kondisi si tivi saat ini cukup memprihatikan. Selain terbungkus oleh lapisan debu tebal, remote-nya pun sudah pensiun entah sejak kapan. Tombol-tombolnya nyaris tanpa guna. Kalau saya tekan channel 5, yang muncul channel 10. Jika saya naikkan volume, yang terjadi adalah bergantinya mode, dari TV ke mode AV.
Tadinya mau saya berikan ke adik saya, tapi saya tidak tega. Memberi barang kan harus barang yang kita juga senang memakainya.

Mau saya buang, nanti dikiranya saya orang kaya. Nanti kamu ingin saya nikahi segera.

Monyet Berbulu Domba

“Pak, di mana matahari disembunyikan setiap kali malam datang?” tanya seorang anak pada ayahnya. Sok lucu dia. Dan pura-pura lugu.

“Di bantal ibu,” jawab si ayah sok romantis. “Biar hangat dia tidur.”

Anak itu beralih pada ibunya. “Ibu, di mana bantal tempat biasa matahari disimpan?”

Si ibu menjawab dengan sok tahu, “Sedang Ibu jemur di pelangi. Baru saja ia selesai dicuci.”

“Pak, kapan pelangi dapat kita lihat?”

“Tidak tentu, Nak. Bergantung awan memutuskan kapan turun hujan.”

Si anak bertanya lagi pada ibunya, “Bu, di mana bulan sewaktu siang hari?”

“Sedang dihangatkan di dapur. Coba kamu tanya si Bibi.”

Einstein vs Bohr

Beberapa hari yang lalu, di tengah jam makan siang pada hari yang cerah tapi banyak awan mengancam, saya terlibat dalam sebuah pembicaraan serius dengan seorang teman kantor. Teramat serius. Pembicaraan paling serius yang pernah kami alami sejak kami saling mengenal. Teman yang saya maksud ini kebetulan adalah seorang perempuan dan junior saya di kampus dahulu. Bukan kebetulan, sebenarnya. Karena Tuhan tidak sedang bermain dadu. Begitu kata Einstein. Atau kata Bohr, si penemu model atom itu? Ah, tidak penting.

Penting, sih. Karena itu adalah filosofi hidup yang juga penting.

Tapi terlepas dari Einstein ataupun Bohr, saya cukup yakin bahwa isi pembicaraan yang saya maksud tidak kalah pentingnya. Bahkan, cukup penting untuk disimak dan dihayati. Sekiranya pekerjaan sedang menumpuk pun, sudah sepatutnya kamu diam sejenak dan memperhatikan apa yang hendak saya paparkan.

Begini.

Buitenzorg

Aisa,
Ada yang membuat bapak tidak bisa tidur malam ini. Di luar sana, temperatur udara mendekati titik terendahnya. Juga gulita. Bulan sama sekali tidak terlihat, padahal ini malam purnama. Awan telah menelannya bulat-bulat, seperti yang dilakukannya pada matahari akhir-akhir ini. Satu-satunya sumber cahaya adalah sinar mata ibumu di kejauhan. Dan itu pun mulai meredup secara perlahan.

Kampung Sexy Dancers

Banyak hal yang terjadi dalam satu-dua minggu terakhir ini. Sungguh banyak. Pengetahuan saya jadi bertambah dan wawasan saya semakin luas. Termasuk pengalaman yang sulit dicari bandingannya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan saya atas kesempatan yang masih saja diberikan.

Hari kamis lalu saya terbang ke Garut. Bukan terbang, sebenarnya. Tapi tidak apa. Biar sedikit gaya.

Ada sebuah talkshow yang harus saya hadiri di sana. Tidak harus, sih. Terserah saya saja. Saya kan orang merdeka. Kalau saya mau, ya, silakan. Kalau pun saya menolak, tidak apa-apa. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa memaksa saya untuk melakukan sesuatu kecuali Dia yang di atas sana. Tidak juga uang atau perintah atasan.

Hidden File


halo
hi
how are you apa kabar?

biasanya,
saya mudah menemukanmu
di sudut terminal
di pos polisi
di balik teralis penjara
di kolong jembatan
….
di rumah sakit bersalin
dan dukun pembunuh janin…

adakah sesuatu yang terjadi?



“Love and a cough cannot be hid.”
[George Herbert]

Bandung, 04 Februari 2009

Ruang Rindu





















karena rindu
dunia terasa sepi
tapi karena dirindukan
dunia begitu berarti


Prolog

Kisah cinta biasanya diakhiri dengan pernikahan. Namun, bagiku sebaliknya. Pernikahan justru menjadi awal kisah cinta kami. Hanya saja aku harus merelakan sebagian telinga kiriku menjadi sumbing, sementara istriku melarang aku memelihara rambut panjang untuk menyembunyikan cacat itu. Tidak pantas seorang pimpinan sebuah biro arsitek berambut gondrong, katanya.  

Love for Show




















kalau jodoh takkan ke mana
kalau bodoh takkan ke mana-mana




“Ruski, kamu cinta aku?” Ika bertanya tiba-tiba dengan nada lirih dan pandangan yang tak mampu Ruski artikan. Seakan penuh harap, sedih atau cemas yang berlebih.

Pelan, ia berjalan mundur, melepaskan topi wisuda. ”Pertanyaan yang sangat bodoh dari kamu. Tentu saja, untuk saat ini … iya,” jawab Ruski tanpa senyum.

Entah kenapa, perempuan itu mulai terisak. “Seberapa besar?”

Ruski yang semakin bingung terus berjalan mundur. “Cukup besar untuk jadi jerawat kalau kamu tolak.” 

Perempuan itu masih menatapnya dengan sorot mata yang tak biasa. “Kalau aku … menikah dengan orang lain?”

always, Laila




















Seseorang di seberang pulau nun jauh di sana berjarak milyaran langkah pernah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab.

“Kamu lebih tahu tentang perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Begitu katanya seusai ia membaca always, Laila. 

Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca maksud si penuduh. Tengah mengejekkah atau sedang jujur memberi apresiasi. Saya lebih merasa tersinggung daripada terpuji. Maklum, waktu itu saya belum tahu siapa itu si Freud,

Seandainya saja si penuduh membaca lagi kisah ini lebih teliti tanpa melewatkan satu pun huruf titik koma spasi, beliau pasti akan menarik kembali kata-katanya dan menggantinya dengan kalimat: 

“Kamu lebih tahu tentang perempuan dan juga laki-laki daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Maklum, dia sendiri tidak tahu siapa itu si Freud.