Abituari


Telah pergi – di Rabu kelabu – handphone tercinta. Mungkin untuk selama-lamanya. Tapi, saya tidak menangis. Tidak bisa. Entah kenapa.

Ah…, seharusnya saya tahu sejak awal, sejak tujuh bulan lalu. Seandainya saja saya mau membuka mata dan sedikit mengerti, saya mungkin dapat mencegahnya. Gejala-gejala itu. Cat yang terkelupas. Flip yang patah. Sinyal yang perlahan-lahan berubah menjadi putus-putus. Seharusnya segera saya bawa dia ke tempat service. Atau, saya simpan untuk dipensiunkan. Tapi, itu semua tidak saya lakukan.

Ketika Penulis...


jatuh miskin… maka dia tidak akan mampu untuk membalas sms-sms, keluyuran, nonton bioskop, pacaran, ngewarnet, pulang kampung, bayar hutang dan tentu saja: ngeborong dvd-dvd bajakan. Tapi, justru pada saat seperti itulah proses saya dalam menulis novel jadi berjalan lancar.

Lah wong ora ono kerjaan lain…

Dua bulan yang lalu, seorang pembaca pernah mengirim sms dengan isi kurang lebih kayak gini:

“MAS, BALAS DONG SMS-SMS SAYA. HARGAI PENGGEMAR.”

Dalam hati saya, “Ngga tau apa kalo ngga ada pulsa, Neng!”

Malah hampir hangus nomer hp saya. Kalo kirim sms, sertakan pula dengan pulsa balasan…

The Name of the Rose




Membaca novel Umberto Eco: The Name of the Rose ini seperti membaca sebuah manuskrip tua zaman Mesir kuno. Kaga ngarti. Meski saya percaya bahwa si penulis memang seorang ahli semiotika kelas dunia… tapi plis dong… membacanya saja sulit. Setidaknya, dua teman saya yang sudah membacanya, yang saya yakini mereka memiliki intelejensia di atas rata-rata, pun menyatakan hal yang serupa. Apalagi, telah diterbitkan pula buku panduan bagaimana membaca The Name of the Rose.

rindu


ada yang merindukanmu
diantara derik jangkrik
tangis gerimis
dan senja yang manja

Bandung, 01 April 2005