Resolusi (lagi?)


Tidak lama lagi saya akan menginjak tahun 2008. Berarti, ini adalah kali ke-29 saya menemui malam pergantian tahun. Cukup fantastis, menurut saya. Meski bukan angka cantik, tentunya. Diberi kesempatan berdiri di muka planet ini selama itu, apa saja yang sudah saya dapatkan? Prestasi apa saja yang sudah saya peroleh? Karya apa yang sudah saya ciptakan?

Tidak. Bukan. Salah pertanyaannya. Selama puluhan kali diberi kesempatan mengitari matahari, apa saja yang sudah saya berikan? Pada keluarga, teman, sahabat, lingkungan dan seluruh dunia? Bukankah, konon, manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat?

Hmm. Jadi malu.

Gagal Maning, Son

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah:

Kita mendapatkan pelajaran lebih banyak dari sebuah kegagalan dibandingkan lima keberhasilan.

Hmm. Tidak. Mungkin yang lebih bagus:
Setiap orang sukses pasti lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan jumlah keberhasilannya.

Yeah, rite.

Tetap saja, bagaimanapun, mengalami kegagalan itu pahit rasanya untuk waktu yang cukup lama.

Beberapa minggu yang lalu saya mengikuti seleksi penawaran beasiswa S2 jurusan Defense Management di ITB. Berbekal Indeks Prestasi paspasan, English speaking yang minim namun rasa percaya diri berlebih, saya diwawancara selama limabelas menit. Cas cis cus dan wes wes wey.

Merindukan


ada yang benar-benar
sulit terhapus dari ingatan
.
.
.
namamu
dan begitu banyak peristiwa
di mana kita berada di dalamnya
tak peduli
berapa lama waktu berlalu
atau jejak-jejak kaki
yang t’lah mengering
lalu terbawa angin

pernahkah kukatakan
bahwa aku mencintaimu?
.
.

Pentingkah?

Pentingkah sebuah cita-cita?

Bukan. Mengingat orang-orang seusia saya rata-rata sudah lama menyerah dengan cita-cita masa kanak-kanaknya, maka pertanyaan yang tepat adalah: Pentingkah menanyakan cita-cita anak-anak saya kelak?

Dahulu sekali, orangtua saya menanamkan suatu hal yang saya rasa begitu menakjubkan: money will follow. Uanglah yang akan mengejar saya. Selama saya belajar, belajar dan belajar, berusaha, berusaha dan berusaha menjadi seseorang atau sesuatu dengan sungguh-sungguh, maka uang, gaji, penghasilan atau materi secara otomatis akan mengikuti saya.

Tapi kemudian yang terjadi adalah peperangan melawan arus zaman. Menjadi sesuatu atau seseorang saat ini adalah tidak penting. Bukan itu. Ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang berhasil menanamkan rasa ketakutan pada diri banyak orang, termasuk saya. Cukupkah uang kita? Apakah kita sanggup mencicil rumah yang layak? Akankah kita sanggup membiayai anak-anak kuliah? Membayar biaya rumah sakit? Membeli mobil?