Hadir...

Mencoba mengusir malaikat yang sedang menyulam jaring laba-laba di blog ini...

Selamat berlebaran.

Farewell, Profesor...

Memasuki gedung berlantai empat berwarna cokelat membosankan itu, Ruski menarik napas dalam-dalam. Ia mantapkan langkah kakinya saat menaiki setiap anak tangga. Napasnya tersengal-sengal di anak tangga terakhir.

“Selamat pagi, Pak Diran,” sapa Ruski penuh formalitas ketika memasuki sebuah ruangan.

Profesor Diran sedang duduk menyandar pada sebuah kursi berlengan. Kacamatanya tebal dengan rambut tipis yang hampir seluruhnya berwarna putih. Pak tua itu sudah menjadi dosen sejak tiga puluh lima tahun yang lalu. “Kamu terlambat sepuluh menit,” sambutnya dingin.

“Maaf, Pak.” Tanpa dipersilakan, Ruski duduk di hadapan dosen itu.

“Kamu tahu, sudah berapa lama kamu tidak datang kemari? Lima bulan,” kata Profesor Diran tanpa menunggu jawaban. “Sebelum itu, enam bulan. Juga dengan dua pertemuan kita sebelumnya, kamu sempat pula menghilang lama. Bila dijumlahkan, kamu sudah menghabiskan waktu hampir tiga tahun untuk mengerjakan skripsi ini … tanpa perkembangan berarti.”

Ruski hanya menundukkan kepala tanpa benar-benar memperhatikan. Ia sudah hafal benar semua kalimat pembuka itu yang didengarnya dari Profesor Diran setiap kali ia datang untuk asistensi tugas akhir.

“Bla … bla … bla …”

Tanpa sengaja, terlihat olehnya sepasang kaki muncul di kolong meja. Pak tua itu tidak mengenakan sepatu; Ruski hampir saja kehilangan kontrol wajahnya untuk menahan tawa.

Always, Laila (Repackaged)

 
 Sebuah Pengantar
 
Seseorang di seberang pulau nun jauh di sana berjarak milyaran langkah pernah melemparkan tuduhan yang kurang bertanggung jawab.

“Kamu lebih tahu tentang perempuan daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Begitu katanya seusai ia membaca always, Laila.

Berhubung tidak bisa menatap matanya, saya kesulitan membaca maksud si penuduh. Tengah mengejekkah atau sedang jujur memberi apresiasi. Saya lebih merasa tersinggung daripada terpuji. Maklum, waktu itu saya belum tahu siapa itu si Freud.

Seandainya saja si penuduh membaca lagi kisah ini lebih teliti tanpa melewatkan satu pun huruf titik koma spasi, beliau pasti akan menarik kembali kata-katanya dan menggantinya dengan kalimat:

“Kamu lebih tahu tentang perempuan dan juga laki-laki daripada apa yang diketahui Sigmund Freud.”

Maklum, dia sendiri tidak tahu siapa itu si Freud.

Tapi Always, Laila memang berkisah tentang perempuan dan juga laki-laki. Karakter mereka dibangun melalui riset panjang dan mendalam yang dikombinasikan dengan pengalaman pribadi, rekayasa memori, plus imajinasi. Hasilnya adalah dua tokoh ini: Laila dan Pram.

Laila adalah seorang perempuan cantik. Teramat cantik. Bahkan kata cantik pun masih kurang pas terdengar. Cuantikk mungkin lebih tepat. Namun, kecantikannya itu tidak bisa ditangkap oleh kamera. Canon, Philips, Minolta. Ia adalah seorang perempuan terhormat. Hormat pramuka, hormat bendera. Perempuan yang cintanya ia bagi tanpa pandang bulu. Bulu kaki, bulu mata, hidung dan ketiak. Perempuan yang hatinya untuk semua yang mengenal tanpa pandang warna kulit. Putih, kuning, cokelat, abu, merah jambu. Perempuan yang akan dikagumi anak-anak, diminati remaja, dimimpikan lelaki dewasa. Para orangtua akan berebut menjadikannya mantu mereka.

Laila adalah seorang perempuan yang takkan bisa berhenti untuk terus dicintai banyak manusia.

Sementara Pram, ia hanyalah seorang lelaki biasa, baik tingkah maupun rupa. Tapi lelaki ini memiliki apa yang Laila cari: kunci membuka beribu rahasia, pintu menuju masa lalu, jendela mengintip masa depan. Pram mempunyai kantung yang berisikan semua hal yang Laila suka, laci penyimpan keping demi keping kenangan, dan peti untuk menaruh sebentuk rindu, segenggam cemburu dan gairah menggebu.

Dan ini adalah kisah cinta antara keduanya.

Kisah mereka ditulis sembilan tahun lalu dalam wujud deretan abjad yang tersusun rapi. Komputer sudah ditemukan waktu itu. Projek GagasVintage yang digagas penerbit memaksa saya membuka kembali lembaran-lembarannya yang sudah sejak lama saya tutup, saya bungkus plastik dan menyimpannya sebagai warisan berharga bagi anak cucu kelak. Saya selipkan ia di sebuah almari rotan yang juga warisan. Sesekali saya bersihkan dari debu yang menempel, lalu saya semprot dengan pewangi dari Arab oleh-oleh sanak yang pulang berhaji. Berharap sangat si buku selamat dari kutu dan rayap yang jahat. Alhamdulillah, tidak saya temukan satupun mereka di sana.

D 17 UAL




pada tangki bensin yang sering bocor 
kampas rem yang tak pernah bekerja maksimal 
lampu yang telah sekian lama padam